Teater Komedi: Dari Alat Penyadaran Menjadi Mesin Pembiusan
Kita semua suka tertawa. Dan teater komedi selalu dianggap sebagai genre yang ringan, menghibur, dan mudah dicerna. Di Indonesia maupun di belahan dunia lain, komedi memang dekat dengan khalayak luas. Tawa dianggap bahasa universal yang bisa menyatukan siapa saja. Tapi, pernahkah kita bertanya, apa yang sebenarnya kita tertawakan? Di sinilah persoalan muncul. Ketika komedi berhenti jadi alat refleksi dan beralih fungsi jadi pelarian belaka dari realitas yang pahit.
Padahal, kalau kita tilik sejarah, komedi sama sekali bukan wilayah yang netral atau remeh. Ia justru lahir dari semangat perlawanan. Ambil contoh Aristophanes di Athena kuno. Dia menjadikan tawa sebagai senjata politik yang tajam untuk membongkar kebodohan dan kemunafikan negara-kota. Atau Shakespeare. Dalam karya-karyanya, sosok pelawak dan badut justru sering menjadi figur paling jujur satu-satunya yang berani menyampaikan kebenaran yang tak sanggup diucapkan oleh raja atau bangsawan. Jadi, dalam konteks ini, komedi sebenarnya adalah bentuk intelektual yang subversif. Bahkan berbahaya bagi kekuasaan.
Ini bukan soal komedi harus selalu serius dan muram. Justru sebaliknya. Chekhov, misalnya, banyak memakai ironi dan humor halus yang cerdik. Shakespeare sendiri penuh dengan satire dan permainan kata yang jenaka. Karya mereka dianggap intelektual bukan karena bebas dari tawa, tapi karena kedalaman konflik manusia yang mereka usung. Intelektualitas dalam komedi terletak pada kemampuannya mengolah konflik itu, bukan pada kesan beratnya.
Di sisi lain, tradisi kita sendiri sebenarnya punya akar yang kuat. Lihat saja ludruk, lenong, ketoprak, atau Srimulat di masa jayanya. Itu semua adalah ruang kritik sosial. Lewat lawakan, para seniman menyentil kekuasaan, mengolok-olok ketimpangan kelas, dan mengungkap absurditas hidup rakyat kecil dengan cara yang relatif aman. Humor menjadi alat yang ampuh.
Namun begitu, situasinya sekarang banyak berubah. Dalam praktik teater komedi kontemporer, terutama yang digerakkan logika pasar, komedi sering direduksi jadi hiburan instan. Slapstick dangkal, ejekan fisik, stereotip yang itu-itu lagi, dan candaan kosong yang miskin gagasan. Tawa diproduksi massal, tanpa risiko, tanpa sikap yang jelas. Komedi semacam ini tidak lagi menggugat realitas. Malah, ia berdamai dengannya.
Artikel Terkait
Kardinal Suharyo Buka Perayaan Natal DKI dengan Cerita Gembala dan Dua Hewan
Surat Terbuka untuk Gus Yaqut: Saatnya Kembali ke Jalan Islam
KPK Tetapkan Menag Yaqut Tersangka Kasus Kuota Haji
600 Huntara Resmi Diberikan kepada Korban Bencana Aceh Tamiang, Ini Fasilitasnya