Setahun Pimpin Semarang, Agustina-Iswar Catat Kemajuan Kesehatan dan Penurunan Kemiskinan

- Selasa, 24 Februari 2026 | 15:20 WIB
Setahun Pimpin Semarang, Agustina-Iswar Catat Kemajuan Kesehatan dan Penurunan Kemiskinan

Setahun Agustina-Iswar Pimpin Semarang: Kesehatan dan Ekonomi Bergerak Naik

Sudah satu tahun Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, dan Wakilnya, Iswar Aminuddin, memegang tampuk kepemimpinan. Dalam periode yang relatif singkat itu, sektor kesehatan kota menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Akses layanan kian terbuka, perlindungan untuk warga bertambah, dan angka kemiskinan pun terus merosot. Tak ketinggalan, perhatian pada ibu hamil juga makin diperkuat.

Semua itu diwujudkan lewat program 'Semarang Sehat'. Program ini memang tak cuma fokus pada pengobatan, tapi juga pencegahan penyakit, urusan gizi, hingga memastikan semua kalangan bisa mendapat layanan kesehatan dengan baik.

"Kesehatan adalah hak dasar setiap warga. Kami ingin membangun Semarang yang kuat dari dalam, dan itu dimulai dari tubuh yang sehat, jiwa yang kuat, ekonomi yang membaik, serta rasa aman saat berobat. Semarang Sehat adalah wujud hadirnya pemerintah untuk melindungi warganya,"

ujar Agustina dalam sebuah keterangan tertulis, Selasa lalu.

Menariknya, pembenahan di sektor kesehatan ini berjalan beriringan dengan upaya pengentasan kemiskinan. Angkanya memang terus turun dalam lima tahun terakhir. Kalau di 2020 masih 11,84%, pada 2025 ini sudah berada di level 9,36%. Penurunan bertahap terjadi tiap tahunnya.

Hal ini, secara langsung maupun tidak, membuka akses yang lebih luas bagi warga untuk berobat. Terutama bagi mereka yang sebelumnya selalu pusing memikirkan biaya.

Menurut Agustina, kesehatan dan ekonomi adalah dua hal yang saling mengikat. Warga yang sehat punya peluang lebih besar untuk bekerja dengan produktif. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang membaik membuat orang tak lagi terlalu khawatir soal biaya berobat.

"Kemiskinan dan kesehatan itu terkait erat. Warga miskin rentan sakit, dan warga sakit bisa jatuh miskin. Karena itu, kami intervensi keduanya sekaligus. Alhamdulillah, angkanya terus menunjukkan perbaikan,"

ungkapnya.

Perluasan cakupan Universal Health Coverage (UHC) juga jadi catatan penting. Pesertanya melonjak dari sekitar 98 ribu orang di 2024 menjadi hampir 229 ribu orang di 2025. Itu artinya, ada tambahan lebih dari 130 ribu peserta dalam setahun.

"Saya sering mendengar cerita warga yang dulu takut ke puskesmas atau rumah sakit karena mikir biaya. Sekarang, dengan UHC yang meluas, mereka bisa datang dengan tenang. Itu kebahagiaan tersendiri bagi kami,"

tambah Agustina.

Penanganan stunting dapat perhatian serius melalui program terpadu. Sasaran programnya luas, mulai dari remaja, calon ibu, hingga balita. Ada Daycare Rumah Pelita untuk 160 balita, lalu Week Care di tiga puskesmas yang menjangkau remaja, ibu hamil, dan balita.

Pemberian tablet tambah darah juga digencarkan. Program DASHAT atau Dapur Sehat Atasi Stunting dijalankan lewat pendampingan gizi dan edukasi.

Layanan untuk ibu dan anak pun diperluas jangkauannya. Pemantauan balita dilakukan di ribuan posyandu yang tersebar, didukung oleh puluhan ribu kader yang tak kenal lelah.

"Saya berterima kasih kepada para kader Posyandu. Mereka adalah pahlawan kesehatan di lingkungan masing-masing. Tanpa mereka, program-program ini tidak akan sampai ke ibu dan anak,"

kata Agustina.

Di sisi infrastruktur, sepanjang 2025 ada empat puskesmas yang dibangun atau direhab, plus tiga Puskesmas Pembantu (Pustu). Tujuannya jelas: mendekatkan layanan kesehatan ke warga.

"Kami ingin memastikan bahwa tidak ada warga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan karena jarak. Dengan membangun puskesmas dan pustu di berbagai titik, kami mendekatkan layanan kepada masyarakat,"

tegasnya.

Tak cuma kesehatan fisik, aspek mental dan sosial warga juga diperhatikan. Itulah fungsi Rumah Inspirasi, ruang bagi warga untuk berkumpul, belajar, dan dapat pendampingan. Hingga tahun ini, sudah tujuh unit yang berdiri di berbagai kecamatan.

"Rumah Inspirasi bukan sekadar bangunan. Ini adalah ruang harapan bagi warga yang membutuhkan pendampingan. Di sini mereka bisa belajar, berkumpul, dan mendapatkan motivasi untuk bangkit,"

urai Agustina.

Memasuki tahun kedua, targetnya tentu lebih tinggi. Layanan kesehatan ibu dan anak akan dikembangkan lagi, dengan menambah daycare dan week care di lebih banyak titik. Bantuan pangan untuk keluarga miskin juga akan terus disalurkan.

Infrastruktur kesehatan tetap jadi prioritas. Beberapa Pustu dan Puskesmas akan diselesaikan desainnya atau dibangun fisiknya. Pelatihan untuk ratusan tenaga kesehatan juga ditingkatkan.

Rumah Inspirasi akan bertambah sembilan lagi di kecamatan yang belum terjangkau. Semua didukung dengan studi kelayakan dan penguatan sarana prasarana.

"Tahun depan kita kejar target yang lebih tinggi. Tidak boleh ada warga yang tertinggal. Semua harus mendapat layanan kesehatan yang layak. Ini janji kami kepada warga Semarang,"

pungkas Agustina.

Semua capaian ini, tentu saja, bukan hasil kerja pemerintah kota sendirian. Ribuan kader posyandu, tenaga kesehatan, dan partisipasi aktif warga adalah kunci utamanya. Kolaborasi inilah yang diharapkan terus berlanjut, agar manfaatnya benar-benar merata dirasakan oleh seluruh masyarakat Semarang.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar