Kabar kematian El Mencho, bos kartel narkoba paling berkuasa di Meksiko, ibarat memercikkan bensin ke bara. Hanya dalam hitungan jam, kekacauan meledak di jalan-jalan. Menanggapi gelombang kekerasan yang tiba-tiba ini, pemerintah pun tak tinggal diam. Ribuan tentara dikerahkan untuk meredam situasi.
Menteri Pertahanan Ricardo Trevilla mengonfirmasi, tambahan 2.500 personel dikirim ke wilayah barat negara itu pada Senin (23/2/2026). Ini melengkapi total sekitar 9.500 pasukan yang sudah bergerak sejak sehari sebelumnya. Gelombang pengiriman pasukan ini jadi respons langsung atas kerusuhan yang menjalar ke setidaknya 20 negara bagian.
Semua berawal dari akhir pekan yang mencekam. Nemesio Oseguera Cervantes atau "El Mencho" bagi banyak orang meninggal dalam tahanan militer pada hari Minggu. Ia baru saja ditangkap oleh pasukan khusus di Jalisco, wilayah basis kekuatannya. Kartel pimpinannya, CJNG, dikenal sebagai salah satu organisasi kriminal paling ganas.
Operasi penangkapan itu sendiri berlangsung dramatis. Pasukan berhasil melacak pertemuan rahasia El Mencho dengan kekasihnya di Tapalpa. Saat komando bergerak, baku tembak sengit pun tak terhindarkan. El Mencho terluka parah dalam insiden itu. Dalam perjalanan udara menuju Mexico City untuk perawatan medis, nyawanya tak tertolong.
“Ada ketenangan, ada pemerintahan, ada angkatan bersenjata, dan ada banyak koordinasi,”
Demikian pernyataan Presiden Claudia Sheinbaum, yang memuji keberhasilan operasi militer tersebut. Meski begitu, prioritas utama sekarang adalah mengembalikan ketertiban. Korban jiwa dari pihak keamanan sudah berjatuhan. Setidaknya 25 anggota Garda Nasional tewas di Jalisco saja.
Di sisi lain, amukan anggota kartel begitu brutal. Begitu kabar duka itu menyebar, mereka seperti kesurupan. Jalan-jalan dibajak bus dan kendaraan lain dibakar hingga jadi kerangka hitam. Di tempat lain, mereka menaburkan paku dan duri logam untuk melumpuhkan lalu lintas. Puluhan bank dan toko jadi sasaran amuk dan dibakar.
Menurut Menteri Keamanan Omar Garcia Harfuch, korban dari berbagai pihak terus berjatuhan. Seorang penjaga penjara, seorang jaksa, dan sekitar 30 anggota geng telah tewas dalam kerusuhan ini. Sementara itu, enam pengawal pribadi El Mencho juga tewas dalam operasi penangkapan, dengan tiga tentara pemerintah mengalami luka-luka.
Suasana di banyak kota pada Minggu itu mirip kota mati. Warga diimbau mengunci diri di rumah. Namun, di balik kesunyian itu, media sosial dipenuhi video mencekam. Satu rekaman menunjukkan baku tembak sengit di San Isidro, dekat Guadalajara. Video lain menampilkan sosok bersenjata menembaki mobil yang lalu lalang. Ada juga gambar mengerikan yang memperlihatkan empat mayat tergeletak di pinggir jalan.
Sebuah rekaman CCTV dari sebuah restoran bahkan menangkap momen nekat: sebuah kendaraan menabrak truk Garda Nasional, sementara pelaku kartel terus menembaki kendaraan itu. Garda Nasional sendiri masih enggan merinci insiden tersebut.
Menariknya, operasi yang menjatuhkan El Mencho ini konon mendapat bantuan dari utara. Kementerian Pertahanan Meksiko mengakui "informasi tambahan" dari Amerika Serikat sangat membantu. AS sendiri pernah memasang harga kepala $15 juta dolar untuk buronan nomor satunya itu. Namun, pemerintah Meksiko menegaskan, tidak ada satu pun pasukan AS yang terlibat langsung di lapangan saat penangkapan dan kematiannya.
Kini, meski Sheinbaum menyatakan blokade jalan telah dibersihkan pada Senin pagi, suasana tetap tegang. Ribuan seragam hijau masih berjaga di sudut-sudut kota. Pertanyaannya, apakah kematian satu raja narkoba benar-benar akan mengakhiri teror, atau justru membuka babak kekerasan yang lebih liar lagi?
Artikel Terkait
Pemerintah Jajaki Ekspor Ceker Ayam ke Malaysia dan China Manfaatkan Surplus Produksi Unggas
Prabowo Jawab Kritik Frekuensi Kunjungan ke Luar Negeri: Sama Seperti Jokowi Dulu, Tetap Disalahkan
Pemprov DKI Siap Naikkan Tarif Transjabodetabek, Pramono Dorong Daerah Penyangga Ikut Patungan Subsidi
Presiden Prabowo Resmikan RSUD di Lampung, Janjikan Obat Murah untuk Rakyat