Fenomena ini makin diperparah oleh tuntutan media dan selera pasar yang menginginkan sesuatu yang cepat, instan, dan tidak menuntut penonton untuk berpikir. Akibatnya bisa ditebak. Banyak teater komedi terjebak dalam reproduksi kebodohan kolektif. Tawa menjadi tujuan akhir, bukan pintu masuk menuju refleksi. Di titik ini, komedi kehilangan martabat estetik dan politiknya yang dulu.
Padahal, menurut sejumlah pengamat, justru di tengah bangsa yang sarat krisis moral, politik, kemanusiaan teater komedi punya potensi besar sebagai alat penyadaran. Komedi yang baik bukan menertawakan penderitaan individu, tapi menertawakan sistem yang melahirkan penderitaan itu. Ia menampar dengan senyum, menyindir dengan cerdas, dan menggugat tanpa gaya menggurui yang menjemukan.
Masalah utamanya sekarang bukan terletak pada bentuk komedinya. Bukan. Persoalannya ada pada keberpihakan ideologis di baliknya. Komedi yang hanya mengejar tawa tanpa refleksi, secara tak langsung berfungsi sebagai alat pembiusan kolektif. Ia membantu penonton melupakan realitas sesaat, bukannya memahami akar masalahnya. Dalam situasi krisis struktural yang kita hadapi, komedi model begini justru jadi bagian dari masalah.
Teater, dalam bentuk apapun, seharusnya punya tanggung jawab. Tanggung jawab untuk membangun kesadaran. Komedi bermutu bukan menertawakan korban, melainkan menertawakan kekuasaan yang semena-mena, ideologi palsu, dan kebodohan yang sudah dinormalisasi. Tanpa kedalaman berpikir dan keberanian untuk mengambil sikap, teater komedi akan kehilangan fungsi historisnya. Ia berubah menjadi sekadar hiburan kosong yang jinak. Ramai, viral, dipergunjingkan, tapi habis begitu lampu panggung padam. Hmmm...
(ed/jaksat-ame)
Artikel Terkait
Laporan Ungkap Aliran Dana Terduga Teroris Lewat Binance, Pegawai Penyelidik Malah Diberhentikan
Tren Bukber Ramadan di Makassar Beralih ke Restoran dengan Konsep Estetik
Sidang Praperadilan Yaqut Ditunda, KPK Absen di Persidangan Perdana
Pantai Akkarena Makassar: Destinasi Favorit Warga dengan Pemandangan Senja Memikat