Kedatangan Jenderal AS di Tel Aviv Peruncing Ketegangan dengan Iran

- Selasa, 27 Januari 2026 | 18:00 WIB
Kedatangan Jenderal AS di Tel Aviv Peruncing Ketegangan dengan Iran

Suasana di Tel Aviv tampaknya makin tegang. Jenderal Brad Cooper, sang kepala Pusat Komando AS, baru saja mendarat untuk serangkaian pertemuan rahasia dengan pimpinan militer Israel. Kunjungan mendadak ini terjadi di saat desas-desus tentang serangan pendahuluan dari Iran justru kian kencang terdengar.

Media Israel, seperti dilaporkan Yedioth Ahronoth, menyoroti alasan di balik kekhawatiran itu. Mereka menilai, justru pengerahan armada AS yang terus berdatangan ke kawasan Teluk itulah yang bisa memicu Iran untuk bergerak lebih dulu. Situasinya jadi berbalik arah. Yang awalnya mengancam, sekarang malah waspada.

Di sisi lain, kesiapan tempur Israel sendiri sudah ditingkatkan. Semua sayap Angkatan Udara mereka dikabarkan telah berada dalam status siaga penuh. Langkah ini bukan tanpa alasan. Isu tentang intervensi militer AS langsung ke Iran, rupanya, masih sangat mungkin terjadi.

Koordinasi antara Washington dan Tel Aviv memang terasa makin rapat. Channel 12 Israel memberitakan bahwa selain Cooper, dua utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, juga dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akhir pekan ini. Pertemuan ini jelas bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sinyal kuat bahwa diplomasi dan opsi militer sedang dibahas berbarengan.

Laporan dari the New York Times semakin mengonfirmasi eskalasi ini. Kapal induk USS Abraham Lincoln disebutkan akan siap beroperasi dalam hitungan satu hingga dua hari ke depan. Dukungannya pun tak tanggung-tanggung; belasan pesawat tempur tambahan telah dikirim untuk memperkuat gugus serang mereka di wilayah tersebut.

Sebelumnya, Fox News mengutip seorang pejabat AS yang mengatakan bahwa kelompok tempur kapal induk itu telah memasuki wilayah operasi CENTCOM di Samudra Hindia. Pergerakan ini sejalan dengan pernyataan Presiden Donald Trump pada 22 Januari lalu, bahwa kapal-kapal Angkatan Laut AS bergerak "untuk berjaga-jaga."

Ketika ditanya tentang kemungkinan intervensi militer, Trump bersikap ambigu. Dia menolak menghapus opsi itu dari meja, hanya berkata bahwa dia tak bisa meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan. Jawaban yang justru membuat situasi makin tidak menentu.

Klaim Trump dan "Armada Besar"

Dalam wawancaranya dengan Axios, Trump malah mengeluarkan klaim menarik. Dia menyebut situasi di Iran sedang "berubah-ubah" dan mengaitkannya dengan kedatangan apa yang dia sebut sebagai "armada besar" AS di dekat Iran.

"Mereka ingin membuat kesepakatan sekarang. Saya tahu itu. Mereka menghubungi beberapa kali untuk berunding," ujar Trump.

Pernyataan ini dia sampaikan bersamaan dengan konfirmasi resmi CENTCOM soal pengerahan Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah. Tujuannya, kata mereka di media sosial, untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas regional.

Namun begitu, ketegangan sebenarnya sudah memanas sejak lama, terutama menyusul gelombang protes di Iran yang berujung kekerasan. Pemerintah Iran sendiri melaporkan korban jiwa mencapai lebih dari 3.000 orang. Di puncak kerusuhan itu, Trump pernah mengeluarkan peringatan keras bahwa AS akan "datang menyelamatkan" para demonstran jika kekuatan mematikan digunakan.

Beberapa hari kemudian, dia bahkan mendorong pengunjuk rasa untuk mengambil alih lembaga-lembaga, sambil menyebut bahwa bantuan sedang dalam perjalanan. Dia juga bicara soal perlunya perubahan kepemimpinan sebuah pernyataan yang banyak ditafsirkan di Teheran sebagai ancaman terbuka terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Peringatan dari Teheran: "Kami Lebih Siap"

Merespon semua ini, Iran sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda gentar. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri mereka, Esmaeil Baghaei, dengan tegas menyatakan negaranya "lebih siap dari sebelumnya" untuk menghadapi segala kemungkinan serangan.

Dalam konferensi pers di Teheran, Baghaei menggambarkan situasi saat ini sebagai "perang hibrida". Dia merujuk pada perang singkat di Juni 2025 dan juga kerusuhan baru-baru ini yang menurut Iran dihasut oleh AS dan Israel. Ancaman dari Washington dan Tel Aviv, katanya, terus berdatangan bersama klaim-klaim yang tidak berdasar.

"Negara-negara di kawasan ini paham betul. Ketidakstabilan itu menular, dan efeknya tidak akan berhenti di perbatasan Iran saja," tegas Baghaei. Dia mendesak negara tetangga untuk mengambil sikap yang jelas terhadap ancaman AS ini.

Peringatan yang sama juga disuarakan oleh para komandan militer senior Iran. Mereka bersumpah akan mempertahankan negara "hingga titik darah penghabisan".

Komandan Pasukan Darat, Ali Jahanshahi, menekankan bahwa persatuan internal di antara angkatan bersenjata adalah kunci utama. "Angkatan bersenjata harus bertindak sebagai satu kesatuan agar musuh merasa tidak berdaya," ujarnya seperti dikutip kantor berita Fars. Dia menegaskan pasukannya akan berdiri bahu-membahu dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Senada dengan itu, Brigadir Jenderal Mohammad Karami dari Garda Revolusi juga menyoroti pentingnya soliditas. Sinergi yang telah terbangun selama ini, kata dia, adalah aset berharga yang justru telah berulang kali menggagalkan rencana musuh.

"Aset itu harus kita jaga, dan terus kita perkuat," pungkas Karami.

Jadi, sementara AS dan Israel sibuk mengkoordinasikan kekuatan dan diplomasi, di seberang sana Iran justru sedang mengeraskan barisan. Ancaman dan kesiapan saling berhadapan, menunggu langkah berikutnya yang bisa menentukan arah angin sesungguhnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar