Kedatangan Jenderal AS di Tel Aviv Peruncing Ketegangan dengan Iran

- Selasa, 27 Januari 2026 | 18:00 WIB
Kedatangan Jenderal AS di Tel Aviv Peruncing Ketegangan dengan Iran

Namun begitu, ketegangan sebenarnya sudah memanas sejak lama, terutama menyusul gelombang protes di Iran yang berujung kekerasan. Pemerintah Iran sendiri melaporkan korban jiwa mencapai lebih dari 3.000 orang. Di puncak kerusuhan itu, Trump pernah mengeluarkan peringatan keras bahwa AS akan "datang menyelamatkan" para demonstran jika kekuatan mematikan digunakan.

Beberapa hari kemudian, dia bahkan mendorong pengunjuk rasa untuk mengambil alih lembaga-lembaga, sambil menyebut bahwa bantuan sedang dalam perjalanan. Dia juga bicara soal perlunya perubahan kepemimpinan sebuah pernyataan yang banyak ditafsirkan di Teheran sebagai ancaman terbuka terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Peringatan dari Teheran: "Kami Lebih Siap"

Merespon semua ini, Iran sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda gentar. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri mereka, Esmaeil Baghaei, dengan tegas menyatakan negaranya "lebih siap dari sebelumnya" untuk menghadapi segala kemungkinan serangan.

Dalam konferensi pers di Teheran, Baghaei menggambarkan situasi saat ini sebagai "perang hibrida". Dia merujuk pada perang singkat di Juni 2025 dan juga kerusuhan baru-baru ini yang menurut Iran dihasut oleh AS dan Israel. Ancaman dari Washington dan Tel Aviv, katanya, terus berdatangan bersama klaim-klaim yang tidak berdasar.

"Negara-negara di kawasan ini paham betul. Ketidakstabilan itu menular, dan efeknya tidak akan berhenti di perbatasan Iran saja," tegas Baghaei. Dia mendesak negara tetangga untuk mengambil sikap yang jelas terhadap ancaman AS ini.

Peringatan yang sama juga disuarakan oleh para komandan militer senior Iran. Mereka bersumpah akan mempertahankan negara "hingga titik darah penghabisan".

Komandan Pasukan Darat, Ali Jahanshahi, menekankan bahwa persatuan internal di antara angkatan bersenjata adalah kunci utama. "Angkatan bersenjata harus bertindak sebagai satu kesatuan agar musuh merasa tidak berdaya," ujarnya seperti dikutip kantor berita Fars. Dia menegaskan pasukannya akan berdiri bahu-membahu dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Senada dengan itu, Brigadir Jenderal Mohammad Karami dari Garda Revolusi juga menyoroti pentingnya soliditas. Sinergi yang telah terbangun selama ini, kata dia, adalah aset berharga yang justru telah berulang kali menggagalkan rencana musuh.

"Aset itu harus kita jaga, dan terus kita perkuat," pungkas Karami.

Jadi, sementara AS dan Israel sibuk mengkoordinasikan kekuatan dan diplomasi, di seberang sana Iran justru sedang mengeraskan barisan. Ancaman dan kesiapan saling berhadapan, menunggu langkah berikutnya yang bisa menentukan arah angin sesungguhnya.


Halaman:

Komentar