Trump terlihat sangat percaya diri. "Kami tahu rute mereka. Kami tahu segalanya tentang mereka, termasuk rumah mereka. Kami akan menyerang kartel-kartel itu," imbuhnya.
Ancaman itu bukan omong kosong. Buktinya, baru Jumat lalu AS menyerang sebuah kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba di perairan timur Samudra Pasifik. Itu adalah serangan pertama pasca-penculikan Maduro, dan menjadi bagian dari setidaknya 36 serangan serupa sejak September. Korban jiwa dilaporkan mencapai sedikitnya 117 orang.
Sementara soal Venezuela, Trump juga membahas nasib minyak negara itu. Dia mengonfirmasi bahwa AS telah memindahkan minyak dari tujuh kapal tanker yang disita. "Mereka tidak punya minyak. Kami ambil minyaknya," katanya singkat, menolak memberi tahu lokasi kapal-kapal tersebut sekarang.
Wawancara yang cukup luas itu juga menyentuh hal-hal lain. Trump terlihat masih bingung menentukan tempat untuk menghadiahkan Nobel Perdamaian milik pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, yang kini cuma bersandar di patung di Oval Office.
Lalu, ada pula pembicaraan soal kerangka kesepakatan keamanan Arktik dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte. Trump mengklaim kesepakatan itu akan memberi AS kepemilikan atas tanah tempat pangkalan mereka berada. "Kami akan mendapatkan semua yang kami inginkan. Sedang ada pembicaraan menarik," ujarnya.
Namun begitu, klaim Trump ini dibantah oleh sejumlah pihak. Pemimpin Denmark dan Greenland menegaskan kedaulatan pulau itu tidak bisa ditawar. Juru bicara NATO juga menyatakan Rutte tidak mengusulkan kompromi apa pun terkait kedaulatan dalam percakapan dengan Trump. Sejauh ini, detail kesepakatan potensial itu memang masih sangat kabur.
Artikel Terkait
Lincoln Siap Serbu, UEA Tolak Jadi Pangkalan AS
Kemajuan Rudal Korut Ubah Ancaman Lokal Jadi Bahaya Global
Mural Kapal Induk AS Hancur di Teheran, Iran Kirim Peringatan Visual ke Washington
Mobil Antipeluru Selamatkan Wali Kota dari Serangan RPG di Maguindanao