Pesan Trump blak-blakan: Iran akan "dipukul dengan sangat keras" jika lebih banyak demonstran yang tewas. Ditambah lagi, dukungan publik Washington kepada PM Israel Benjamin Netanyahu untuk menyerang program nuklir Iran, membuat Teheran makin cemas. Mereka khawatir sebuah operasi militer gabungan bisa terjadi kapan saja.
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, punya narasi sendiri. Dalam pidatonya, ia menuduh para pengunjuk rasa sudah dijadikan alat oleh pihak asing untuk menggerogoti stabilitas negara.
"Kita harus mengenali taktik musuh. Mereka melihat ini sebagai sebuah kesempatan dan berusaha mengeksploitasinya. Tentu saja, pejabat kita sedang bekerja dan bersiap, dan mereka akan terus bersiap. Para perusuh harus ditempatkan di tempat semestinya,"
ujar Khamenei. Meski kepemimpinan Iran didukung oleh institusi militer dan agama yang kuat, kabar burung justru bermunculan. Ada desas-desus soal rencana darurat bagi petinggi negara untuk mengungsi ke Moskow jika keadaan darurat.
Yang bikin Iran makin waspada adalah aksi dramatis AS di Venezuela. Penangkapan Presiden Nicolás Maduro itu menimbulkan ketakutan mendalam di Teheran. Pesannya jelas: Washington tidak akan ragu menggunakan kekuatan militer untuk menggulingkan pemerintahan yang dianggapnya bermasalah. Dan sekarang, semua mata tertuju ke Iran.
Laporan dari kelompok HAM menyebutkan, bentrokan telah menewaskan lebih dari 20 orang. Ratusan lainnya ditahan setelah aparat membubarkan paksa dengan gas air mata dan penangkapan massal. Situasinya rumit, tegang, dan sama sekali belum terlihat ujungnya.
Artikel Terkait
Macron Serukan Koalisi Kemerdekaan untuk Lawan Dominasi AS dan China
Iran Klaim Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Bantah Klaim Trump Soal Pertahanan Udara
Akademisi Soroti Troll Army sebagai Alat Baru Propaganda Politik di Era Digital
Trump Ancam Rebut Pulau Kharg, Ultimatum AS ke Iran Berakhir 6 April