Nah, dari situlah kemarahannya muncul. Karena merasa ada yang tidak beres, Ahok pun mendesak jaksa untuk menyelidiki lebih jauh. Ia ingin tahu alasan sebenarnya di balik keputusan mencopot dua orang kompeten tersebut.
Pernyataan blak-blakan itu sempat memicu tepuk tangan dari sejumlah pengunjung sidang. Situasi pun ricuh sejenak. Hakim ketua sidang langsung memberi teguran. "Tolong pengunjung bisa tertib. Ini persidangan, bukan hiburan. Tolong jangan bertepuk tangan," tegasnya.
Di sisi lain, jaksa penuntut umum tampaknya tak sependapat. Menurut mereka, desakan Ahok untuk memeriksa pejabat tinggi itu tidak relevan dengan maksud pemeriksaan saksi dalam perkara ini. "Itu kan fakta dari keterangan saksi. Namun saksi sendiri tidak menjelaskan fakta yang mana, detail perbuatan seperti apa," jawab jaksa. Intinya, tidak ada dokumen pendukung yang diajukan Ahok untuk membuktikan kaitan itu.
Meski begitu, pernyataan Ahok di persidangan telah menyisakan tanda tanya besar. Ia seperti melempar batu ke kolam yang tenang. Ripplenya bisa meluas ke mana-mana. Sidang korupsi ini, yang awalnya fokus pada pengelolaan minyak mentah, tiba-tiba menyentuh soal tata kelola dan kepemimpinan di tubuh BUMN. Dan dua nama yang disebut Erick Thohir dan Jokowi tentu bukan nama sembarangan.
Kini, bola ada di pengadilan. Apakah dorongan Ahok hanya akan jadi pernyataan dramatis di ruang sidang, atau benar-benar akan ditindaklanjuti? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
KPK Bergerak Serentak: Jakarta dan Banjarmasin Diguncang OTT
Di Balik Penampilan Prima Jokowi, Tradisi Hukum Kuno yang Masih Membayangi
Jaringan Judi Online Berbasis Kamboja Dibongkar dari Kamar Kos Palembang
Desakan Keras: Aparat Hukum Didorong Periksa Jokowi Terkait Dua Kasus Besar