Islah mengaku mendapat pengakuan langsung dari Yaqut.
“Yang diajak Presiden itu Dito, bukan Menteri Agama,” ujar Islah, seperti dikutip dari sebuah kanal YouTube.
Menurut pengakuannya, Presiden Joko Widodo-lah yang memimpin langsung pembicaraan dengan Raja Salman untuk menambah kuota. Dan Jokowi memilih mengajak Dito, didampingi Menteri BUMN saat itu Erick Thohir dan Mensetneg Pratikno.
Cerita ini makin rumit. Islah juga mengungkap bahwa Yaqut sebenarnya berniat hadir di rapat Pansus Hak Angket Haji DPR untuk bersaksi. Rencananya urung. Jokowi melarangnya, dengan alasan menugaskan Yaqut menggantikan Menhan Prabowo Subianto di sebuah konferensi perdamaian di Prancis.
Awalnya cuma tugas tiga hari. Tapi kemudian diperpanjang sampai 24 hari atas arahan Presiden. Bagi Islah, ini terlihat seperti upaya mengulur-ulur waktu. Menunggu sampai masa kerja pansus DPR itu selesai, dan kesempatan untuk memanggil Yaqut pun hilang.
Skandal haji ini seperti bola salju. Semakin menggelinding, semakin banyak orang dan fakta yang terseret ke dalamnya. Kini, semua mata tertuju pada ruang pemeriksaan KPK, menunggu apa yang akan diungkap Dito Ariotedjo.
Artikel Terkait
KPK Periksa Dito Ariotedjo Terkait Kasus Kuota Haji Yaqut
KPK Selidiki Mantan Koordinator Demo yang Berbalik Dukung Bupati Pati
Pengacara Marcella Santoso Akui Bayar Rp 597 Juta ke Bos Buzzer untuk Lindungi Harvey Moeis
Rustam Effendi: Saya Tahu Siapa Pembuat Ijazah Palsu Jokowi