Setiap hubungan punya momennya sendiri. Ada fase di mana semuanya terasa aman dan stabil. Pasangan selalu ada, komunikasi lancar, dan pertengkaran pun jarang berujung badai. Tapi anehnya, bukannya nyaman, justru muncul rasa gelisah. Hati terasa datar, bahkan kita mulai mempertanyakan perasaan sendiri. Kok bisa?
Menurut sejumlah saksi, perasaan campur aduk ini seringkali bukan pertanda cinta memudar. Penyebabnya lebih sederhana: kita belum terbiasa dengan ketenangan. Selama ini, gambaran cinta di film atau cerita selalu dipenuhi drama, air mata, dan gejolak hati yang tak karuan.
“Banyak orang terbiasa mengasosiasikan cinta dengan intensitas emosional. Ketika intensitas itu hilang, mereka mengira cintanya juga ikut hilang,”
Ungkap Esther Perel, psikoterapis ternama asal Belgia. Dan memang, pola pikir seperti itu cukup umum.
Terbiasa dengan Naik-Turunnya Hubungan
Bayangkan hubungan yang penuh konflik. Ia menciptakan siklus emosi ekstrem: cemas menunggu, berharap, lalu kecewa, dan akhirnya lega saat masalah reda. Pola ini, yang disebut "intermittent reinforcement", justru memperkuat keterikatan. Perhatian yang datang tak menentu malah bikin ketagihan.
Nah, ketika hubungan akhirnya stabil dan tenang, tubuh dan emosi kita justru kehilangan "lonjakan" adrenalin itu. Yang dulu dianggap sebagai bukti cinta, kini hilang. Alhasil, hubungan yang sebenarnya lebih sehat malah terasa hambar. Padahal, ini justru tandanya aman.
Lelahnya Berjuang untuk Cinta
Ada lagi faktor lainnya. Sebagian dari kita mungkin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta itu harus diperjuangkan mati-matian. Mengalah, terus-menerus membuktikan diri, atau menenangkan pasangan dianggap sebagai wujud kasih sayang sejati.
Lalu, ketika akhirnya kita berada dalam hubungan yang setara tanpa tuntutan pengorbanan emosional berlebihan muncul rasa kosong. Tidak ada konflik untuk diperbaiki, tidak ada drama untuk diselesaikan. Situasi ini kerap disalahartikan sebagai kebosanan, padahal mungkin ini pertama kalinya kita merasakan kedamaian yang sesungguhnya.
Di sisi lain, jika dari awal cinta diasosiasikan dengan ketidakpastian, maka kedatangan konsistensi justru terasa mencurigakan. Kita jadi waspada. Padahal, dalam hubungan yang sehat, kamu tidak perlu terus-menerus berjaga, menebak-nebak isi hati pasangan, atau hidup dalam kecemasan akan ditinggalkan.
Ketentraman Bukan Akhir Segalanya
Intinya begini: dalam hubungan yang matang, intensitas tidak selalu berarti gejolak. Keintiman justru dibangun pelan-pelan lewat rasa aman dan kedekatan emosional yang dalam. Jadi, hubungan yang tentram bukanlah tanda gairah telah hilang. Itu justru pertanda hubunganmu tumbuh semakin dewasa. Dan itu hal yang baik.
Artikel Terkait
Natha Panggil Wira “Ayah” di Sidang, Gugatan Warisan Sinetron ‘Turun Ranjang’ Makin Memanas
Nasabah PNM Mekaar di Serang Berhasil Tekan Sampah Rumah Tangga hingga 55 Persen Lewat Bank Sampah MATA
Ria Ricis Akui Operasi Hidung demi Kesehatan, Bukan Sekadar Estetik
Puasa Ayyamul Bidh Dzulqa’dah 1447 H Jatuh pada 1-3 Mei 2026, Ibadah di Bulan Haram Berpahala Lipat Ganda