Nama Bayu Risanto tiba-tiba ramai diperbincangkan. Bukan karena skandal atau berita politik, melainkan sebuah kehormatan langka dari langit: namanya kini diabadikan pada sebuah asteroid. Prestasi ini datang dari komunitas astronomi internasional, mengukir sang ilmuwan Indonesia dalam orbit benda langit.
Di dunia sains global, reputasi Bayu Risanto sudah tak diragukan. Tapi di Tanah Air, sosoknya mungkin masih asing bagi banyak orang. Padahal, kontribusinya di bidang meteorologi dan ilmu atmosfer sangat signifikan, terutama untuk wilayah tropis seperti Indonesia. Penghargaan asteroid ini adalah bentuk pengakuan nyata atas kerja kerasnya.
Lahir di Bogor pada Januari 1981, Christoforus Bayu Risanto adalah sosok yang unik. Jalannya tak biasa. Ia berhasil memadukan dua dunia yang kerap dianggap berseberangan: sains dan teologi. Di satu sisi, ia adalah ilmuwan atmosfer yang tekun. Di sisi lain, ia juga seorang imam Katolik yang aktif.
Perjalanan pendidikannya pun mencerminkan keluasan minatnya. Ia tak terjebak dalam satu disiplin saja.
Bayu menyelesaikan Sarjana Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Lalu, ia meraih gelar Magister Teologi dari Universitas Sanata Dharma pada 2012.
Minatnya pada sains kemudian membawanya ke Amerika. Di Universitas Creighton, ia mengambil Magister Sains Ilmu Atmosfer dan lulus tahun 2016. Puncaknya, gelar Doktor Ilmu Atmosfer dan Penginderaan Jauh ia raih dari Universitas Arizona pada 2021.
Kombinasi latar belakang humaniora dan sains ini yang membuatnya langka. Ia melihat persoalan tak hanya dari angka dan model, tapi juga dari sudut pandang filosofis dan kepedulian lingkungan.
Artikel Terkait
RCTI Beda: Transformasi Total dan Jadwal Baru Mulai 26 Januari 2026
Sebelum Henti Jantung, Lula Lahfah Ungkap Deretan Penyakit yang Dideritanya
Nisfu Syaban 2026: Malam Pengampunan yang Jatuh pada 3 Februari
Insanul Fahmi Pilih Rujuk dengan Istri Sah, Tinggalkan Kabar Nikah Siri