Lantas, apa sebenarnya kontribusi ilmiahnya? Fokus utama Bayu adalah meningkatkan akurasi prakiraan cuaca. Ini bukan pekerjaan mudah, apalagi di daerah dengan data observasi yang terbatas.
Dalam penelitiannya, ia mengolah berbagai data. Mulai dari model fisik atmosfer, teknik asimilasi data, hingga informasi kelembapan dari GPS meteorology. Semuanya dikombinasikan dengan data konvensional dari stasiun cuaca.
Hasilnya? Prakiraan cuaca yang jauh lebih presisi. Menurut sejumlah saksi, pendekatannya ini punya dampak praktis yang besar. Mulai dari mitigasi bencana, dukungan untuk sektor pertanian, hingga keselamatan publik di Indonesia dan sekitarnya.
Kini, namanya abadi di langit. International Astronomical Union (IAU) secara resmi menetapkan asteroid dengan katalog (752403) Bayurisanto = 2015 PZ114.
Penamaan asteroid bukan hadiah biasa. Ini adalah kehormatan tertinggi yang hanya diberikan pada mereka yang jasanya dianggap luar biasa bagi ilmu pengetahuan atau kemanusiaan. Asteroid itu sendiri adalah benda berbatu yang mengelilingi Matahari, kebanyakan berkumpul di sabuk antara Mars dan Jupiter.
Prestasi Bayu Risanto ini menunjukkan bahwa dedikasi tanpa batas, meski di bidang yang terkesan niche, akhirnya akan bersinar. Bahkan, hingga ke bintang-bintang.
Artikel Terkait
Bayi 42 Hari Tertular Cacar Air Usai Dijenguk Tamu
Sapu Menjauh Saat Imlek, Ini Makna Filosofis di Balik Pantangannya
RCTI Beda: Transformasi Total dan Jadwal Baru Mulai 26 Januari 2026
Sebelum Henti Jantung, Lula Lahfah Ungkap Deretan Penyakit yang Dideritanya