Lingkungan sekitar kita, yang kadang luput dari perhatian, ternyata bisa jadi sumber masalah kesehatan anak. Salah satu ancaman tersembunyi itu adalah timbal. Logam berat ini memang tak kasat mata, tapi efeknya bisa sangat nyata.
Apa sih timbal itu? Secara singkat, ini logam lunak yang sering dipakai untuk melindungi logam lain dari karat. Masalahnya, kandungan racunnya tinggi banget. Partikelnya mudah beterbangan di udara, lalu mencemari darah manusia. Kalau sudah terpapar, dampak buruknya bisa dengan mudah menimpa siapa saja.
Nah, temuan terbaru dari sebuah penelitian cukup bikin kita semua waspada. Penelitian ini digarap bersama oleh Kementerian Kesehatan, BRIN, lalu ada juga Yayasan Pure Earth Indonesia dan Vital Strategies. Hasilnya? Sungguh mengkhawatirkan.
Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) Tahap Pertama mengungkap, 1 dari 7 anak di Indonesia punya kadar timbal dalam darahnya melebihi 5 mikrogram per desiliter. Angka itu bukan main-main itu adalah ambang batas yang ditetapkan Kemenkes dan WHO untuk segera dilakukan intervensi, baik secara klinis maupun lingkungan.
Yang menarik, risikonya ternyata lebih besar pada anak yang tinggal di rumah dengan cat terkelupas. Risikonya naik 61%! Sementara itu, faktor lain seperti pekerjaan orang tua yang berkaitan dengan timbal, penggunaan alat masak logam tertentu, sampai pemakaian bedak atau kosmetik, berkontribusi menaikkan kadar timbal darah anak sekitar 7–10%.
Di sisi lain, ada kabar baik. Akses pendidikan yang lebih tinggi dan tingkat pendapatan keluarga yang lebih baik ternyata berkaitan dengan kadar timbal darah anak yang lebih rendah. Survei ini sendiri dilakukan dari Mei hingga November 2025, melibatkan lebih dari 1.600 anak usia balita di enam provinsi.
Dampak Serius dan Sumber yang Tak Terduga
Paparan timbal, terutama pada anak-anak, dampaknya serius. Bisa mengganggu tumbuh kembang, menurunkan IQ, bahkan memicu masalah kesehatan jangka panjang. Parahnya, paparan ini sering kali tak bergejala klinis yang jelas. Karena sifatnya yang kronis dan berpotensi permanen, deteksi dini dan pelacakan sumbernya jadi kunci.
Artikel Terkait
Merah, Naga, dan Fu Terbalik: Makna Tersembunyi di Balik Hiasan Imlek 2026
Aksesori 2026: Dari Emas Tulola hingga Drama Saint Laurent
Setelah 27 Tahun dan Rekor Terdampar di Orbit, Suni Williams Pamit dari NASA
Ketuban Pecah Bukan Patokan, Kontraksi Justru Tanda Utama Persalinan