Harga minyak mentah dunia melonjak, bahkan menembus angka psikologis 100 dolar AS per barel. Pemicunya? Penutupan Selat Hormuz yang mencegat jalur pasokan global. Situasi ini tak lepas dari eskalasi konflik bersenjata antara Iran dan AS-Israel yang sudah berjalan dua pekan.
Di tengah gejolak itu, impor minyak dari Amerika Serikat muncul sebagai alternatif yang mungkin. Apalagi, Indonesia dan AS punya perjanjian jual beli senilai fantastis, 15 miliar dolar AS. Tapi, jangan dulu berharap mulus. Rupanya, mengimpor dari Negeri Paman Sam punya tantangan tersendiri, terutama soal waktu tempuh.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengakui, selama ini Indonesia lebih banyak bergantung pada pasokan dari Timur Tengah. Impor dari AS? Jumlahnya tak seberapa, salah satunya karena pertimbangan jarak yang jauh.
Ujarnya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Artikel Terkait
Gladbach Tundukkan St. Pauli 2-0 di Bundesliga
Hari Pertama Mudik 2026: 285 Ribu Kendaraan Keluar Jakarta, Arus Masih Terkendali
Kemlu Siap Sambut 34 WNI dari Iran dalam Evakuasi Tahap Kedua
Polisi Selidiki Penyerangan dengan Air Keras terhadap Aktivis KontraS di Salemba