Harga minyak mentah dunia melonjak, bahkan menembus angka psikologis 100 dolar AS per barel. Pemicunya? Penutupan Selat Hormuz yang mencegat jalur pasokan global. Situasi ini tak lepas dari eskalasi konflik bersenjata antara Iran dan AS-Israel yang sudah berjalan dua pekan.
Di tengah gejolak itu, impor minyak dari Amerika Serikat muncul sebagai alternatif yang mungkin. Apalagi, Indonesia dan AS punya perjanjian jual beli senilai fantastis, 15 miliar dolar AS. Tapi, jangan dulu berharap mulus. Rupanya, mengimpor dari Negeri Paman Sam punya tantangan tersendiri, terutama soal waktu tempuh.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengakui, selama ini Indonesia lebih banyak bergantung pada pasokan dari Timur Tengah. Impor dari AS? Jumlahnya tak seberapa, salah satunya karena pertimbangan jarak yang jauh.
"Memang tantangannya adalah kalau dari Amerika lebih lama, (perjalanan) mencapai 40 hari. Kalau dari Middle East (Timteng) itu 2-3 minggu. Tetapi sekarang kita bikin kontrak jangka panjang,"
Ujarnya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Menurut Bahlil, sekitar 20 persen impor minyak mentah kita berasal dari kawasan Timur Tengah. Lalu, dari mana sisanya? Ternyata, Indonesia sudah menjajaki sumber-sumber lain.
"Jadi minyak mentahnya itu 20 persen memang dari Middle East. Sisanya kita dapat dari Angola, Nigeria, Brasil, kemudian sebagian Amerika, sebagian dari Malaysia. Jadi itu pun kita sudah dapat penggantinya,"
Katanya lagi, meyakinkan.
Perjanjian senilai 15 miliar dolar AS dengan Washington itu sendiri sebenarnya bukan hal baru. Ini adalah bagian dari komitmen dagang yang sudah disepakati kedua negara sebelumnya. Hanya saja, di tengah tutupnya Selat Hormuz, opsi ini jadi terasa lebih relevan untuk dikedepankan meski butuh kesabaran ekstra menunggu kapal tanker berlayar hampir 40 hari lamanya.
Artikel Terkait
Evakuasi Dramatis 7 Jam, Korban Selamat Tertimpa KRL di Bekasi Timur Berhasil Dikeluarkan dari Reruntuhan
Enam hingga Tujuh Penumpang Masih Terjebak di Kereta Argo Bromo Anggrek Usai Tabrakan dengan KRL di Bekasi Timur
Kanselir Jerman Akui Barat Meremehkan Kekuatan Iran dan Kecam Strategi Negosiasi AS
ESDM Dorong CNG sebagai Alternatif Pengganti LPG untuk Kurangi Ketergantungan Impor