Guru Honorer Jambi Jadi Tersangka Usai Tampar Murid yang Makinya

- Selasa, 20 Januari 2026 | 19:48 WIB
Guru Honorer Jambi Jadi Tersangka Usai Tampar Murid yang Makinya

Kapolda Jambi, Irjen Pol Krisno Siregar, akhirnya angkat bicara soal kasus guru honorer yang jadi tersangka. Guru bernama Tri Wulansari itu dilaporkan oleh muridnya sendiri di SDN 21 Desa Pematang Raman, Muaro Jambi. Kasusnya cukup menyita perhatian.

Semua berawal dari razia rambut. Tri memotong rambut seorang siswa kelas 6 yang dianggap melanggar aturan. Tapi, rupanya sang murid tak terima. Dia malah membalas dengan makian. Nah, di sinilah masalahnya meruncing. Karena emosi tersulut, Tri pun membalas. Dia mengomeli anak itu dan memberikan satu kali tamparan di mulut.

Krisno Siregar mengaku pihaknya sedang berupaya mencari jalan keluar.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Kejati Jambi untuk memediasi para pihak guna melakukan penghentian penyidikan melalui keadilan restoratif,” ujar Krisno, Selasa (20/1).

Sebelumnya, kasus ini ditangani Polres Muaro Jambi. Krisno sendiri mengaku baru mengetahui perkara ini belakangan.

Kisah dari Sang Guru di Hadapan DPR

Sementara itu, di tempat lain, Tri Wulansari menyampaikan kisahnya langsung ke Komisi III DPR. Dia hadir di depan Ketua Komisi III Habiburokhman dan sejumlah anggota dewan. Menurut penuturannya, insiden terjadi pada 8 Januari 2025, saat anak-anak baru masuk semester baru.

Tri bilang, para siswa sudah diperingati untuk menghitamkan kembali rambut yang dicat sebelum libur berakhir. Tapi, ada empat anak yang masih datang dengan rambut pirang. Salah satunya adalah siswa kelas 6 tadi.

“Jadi saya razia,” kata Tri. “Soalnya sudah diberi tahu sebelumnya. Ternyata masuk semester, rambutnya masih bersemir. Ya saya potong.”

Dia melanjutkan, tiga anak lainnya menurut. Mereka merasa bersalah. Tapi satu anak ini beda.

“Dia berontak, tidak mau dipotong rambutnya,” tambahnya.

Meski melawan, rambut anak itu akhirnya tetap terpangkas. Cuma sedikit sih. Tapi justru setelah itu, murid tadi melontarkan kata-kata kasar yang membuat Tri naik pitam.

Tri mengaku tidak terima dihina seperti itu. Dia pun membentak dan memberi pelajaran. Tamparan itu, katanya, terjadi karena refleks semata.

“Saya bilang, ‘Kamu ngomong apa? Orang tua di sekolah ini ya guru kamu. Kalau di rumah orang tua kamu ya orang tua kamu, tapi di sekolah guru inilah orang tua kamu,’” ucap Tri menirukan ucapannya saat itu.

“Tapi tidak ada kejadian berdarah atau giginya patah. Sama sekali tidak. Itu cuma sekali dan saya tidak pakai atribut apa-apa di tangan,” jelasnya mencoba meluruskan.

Nah, sekarang bola ada di pengadilan dan kepolisian. Mau dibawa ke mana kasus yang satu ini? Banyak yang menunggu.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar