“Jadi saya razia,” kata Tri. “Soalnya sudah diberi tahu sebelumnya. Ternyata masuk semester, rambutnya masih bersemir. Ya saya potong.”
Dia melanjutkan, tiga anak lainnya menurut. Mereka merasa bersalah. Tapi satu anak ini beda.
“Dia berontak, tidak mau dipotong rambutnya,” tambahnya.
Meski melawan, rambut anak itu akhirnya tetap terpangkas. Cuma sedikit sih. Tapi justru setelah itu, murid tadi melontarkan kata-kata kasar yang membuat Tri naik pitam.
Tri mengaku tidak terima dihina seperti itu. Dia pun membentak dan memberi pelajaran. Tamparan itu, katanya, terjadi karena refleks semata.
“Saya bilang, ‘Kamu ngomong apa? Orang tua di sekolah ini ya guru kamu. Kalau di rumah orang tua kamu ya orang tua kamu, tapi di sekolah guru inilah orang tua kamu,’” ucap Tri menirukan ucapannya saat itu.
“Tapi tidak ada kejadian berdarah atau giginya patah. Sama sekali tidak. Itu cuma sekali dan saya tidak pakai atribut apa-apa di tangan,” jelasnya mencoba meluruskan.
Nah, sekarang bola ada di pengadilan dan kepolisian. Mau dibawa ke mana kasus yang satu ini? Banyak yang menunggu.
Artikel Terkait
Tim SAR Taklukkan Tebing dan Kabut, Evakuasi Korban Kedua dari Reruntuhan Pesawat
Ingatan Mei 1998 Diuji di Meja Hijau, Menteri Digugat Atas Penyangkalan
Wali Kota Madiun Dijerat KPK, Dugaan Pungli dan Gratifikasi Tembus Rp 2,25 Miliar
Kumparan Gelar Live Road to, Siap Bagikan Hadiah Rp 99 Juta