TPA Muara Fajar Pekanbaru Bakal Disulap Jadi Pembangkit Listrik 3 MW

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 12:55 WIB
TPA Muara Fajar Pekanbaru Bakal Disulap Jadi Pembangkit Listrik 3 MW

Bau sampah yang menyengat dan tumpukan limbah yang menggunung di TPA Muara MURIANETWORK.COM, Pekanbaru, mungkin tak lama lagi jadi kenangan. Kota ini sedang bersiap untuk lompatan besar. Kolaborasi antara Polda Riau dan Pemkot Pekanbaru berhasil menghadirkan solusi cerdas: mengubah masalah menjadi berkah energi.

Intinya, mereka akan menyulap tempat pembuangan akhir itu menjadi pusat listrik berbasis biogas. Teknologi Waste-to-Energy (WTE) yang diterapkan ditargetkan bisa menghasilkan listrik hingga 3 Megawatt. Proyek ramah lingkungan ini, digerakkan melalui program Green Policing Polda Riau, diyakini bakal memberi efek berganda yang luas. Tak cuma untuk ekologi, tapi juga ekonomi dan sosial masyarakat Riau.

Kabid Humas Polda Riau, Kombes Zahwani Pandra Arsyad, membeberkan cara kerjanya. Fasilitas ini akan menangkap gas metana yang selama ini cuma menguap beracun ke udara lalu mengonversinya menjadi listrik hijau.

"Kapasitasnya mencapai 3 MW, yang bisa disalurkan ke jaringan PLN sekitar 20,5 juta kWh setiap tahunnya," jelas Zahwani dalam keterangannya, Sabtu (7/2/2026).

Yang menarik, skemanya business to business. Artinya, Pemkot Pekanbaru tak perlu menggelontorkan dana APBD. Malah, mereka bisa berhemat besar karena tak lagi wajib membayar tipping fee untuk pengelolaan sampah. Biaya operasional TPA pun dipastikan bakal jauh menurun.

Manfaat lingkungannya juga jelas. Menurut Zahwani, volume sampah bisa berkurang drastis, hingga 80-90%. Bau tak sedap akan hilang dan risiko kebakaran tumpukan sampah bisa ditekan.

"Dengan teknologi ini, masalah bau dan risiko kebakaran di TPA bisa kita cegah," imbuhnya.

Dari sisi ekonomi, keuntungannya berlapis. Selain dari penjualan listrik, ada potensi pendapatan lain yang tak kalah menjanjikan: perdagangan kredit karbon. Estimasi kasar nilainya bisa mencapai Rp 6,7 miliar per tahun. Belum lagi penyerapan tenaga kerja. Saat konstruksi, butuh 50-100 pekerja lokal. Nanti saat operasional, akan tersedia 15-20 posisi tetap.

Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, tak menyembunyikan antusiasmenya. Ia menyambut hangat inisiatif Polda Riau ini. Baginya, ini solusi yang hampir sempurna: menyelesaikan masalah sampah tanpa membebani keuangan daerah.

"Pemkot merasa sangat tertolong. Ini benar-benar nol APBD. Bahkan, kami justru dapat keuntungan dari sewa lahan dan nantinya bagi hasil penjualan listrik. Kerja sama yang luar biasa," kata Agung pada Jumat (6/3).

Ia juga melihat dampak jangka panjangnya. Lahan TPA seluas 4 hektare yang nyaris penuh itu punya harapan baru. Melalui proses ekstraksi gas metana dan penutupan membran, sampah organik akan menyusut.

"Artinya, lahan yang tadinya penuh bisa difungsikan kembali. Masalah yang menumpuk satu dekade ini akhirnya ada jalan keluarnya," tambah Agung.

Untuk mewujudkannya, Pemkot sudah menandatangani MoU dengan PT ICE sebagai mitra swasta pengelola. Peralatan seperti pipa dan membran sebagian sudah tiba di lokasi dan proses pemasangan sedang berjalan.

Secara keseluruhan, proyek ini jadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara kepolisian, pemerintah daerah, dan swasta bisa menjawab tantangan nasional. Mulai dari kedaulatan energi hingga pertumbuhan ekonomi yang inklusif, semuanya bisa dimulai dari mengelola sampah dengan cara yang lebih pintar.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar