Harga Minyak Dunia Terkoreksi Usai Pelabuhan Oman Normal, tapi Ancaman Gangguan Pasokan dari Konflik Timur Tengah Masih Bayangi Pasar

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 08:15 WIB
Harga Minyak Dunia Terkoreksi Usai Pelabuhan Oman Normal, tapi Ancaman Gangguan Pasokan dari Konflik Timur Tengah Masih Bayangi Pasar

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada Jumat, 5 Juni 2026, setelah operasi di pelabuhan utama Oman kembali normal pascainsiden serangan drone yang sempat menghentikan aktivitas pemuatan minyak. Namun, di tengah koreksi harian tersebut, kedua kontrak acuan utama justru berada dalam jalur untuk mengakhiri tren penurunan yang berlangsung selama dua pekan terakhir, meskipun harapan akan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah kembali mendapat pukulan telak.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus, yang menjadi patokan global, tercatat ambles 2,3 persen menjadi 92,89 dolar AS per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun tiga persen ke level 90,25 dolar AS per barel. Penurunan ini terjadi setelah otoritas Oman mengumumkan bahwa Pelabuhan Mina al Fahal telah beroperasi normal kembali, menyusul laporan adanya ledakan yang diduga berasal dari serangan drone di antara dua dermaga tambatan pelampung tunggal.

Menurut laporan Reuters yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah tersebut, belum jelas kapan persisnya serangan itu terjadi. Data dari LSEG juga menunjukkan sejumlah kapal tanker super masih berlabuh di lepas pantai pelabuhan. Meskipun insiden di Teluk Oman ini mereda, ketegangan geopolitik yang lebih luas justru kembali memanas dan menjadi perhatian utama para pelaku pasar.

Harapan akan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran mengalami kemunduran signifikan setelah kelompok Hizbullah secara resmi menolak gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Iran, yang merupakan sekutu utama Hizbullah, sebelumnya menjadikan penghentian pertempuran di Lebanon sebagai salah satu tuntutan inti dalam negosiasi perdamaian. Dalam sebuah pernyataan tegas, pemimpin Hizbullah menggambarkan kesepakatan yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon awal pekan ini sebagai sesuatu yang "absurd, memalukan, dan menghina."

Penolakan tersebut terjadi di tengah eskalasi militer yang masih berlangsung. Associated Press melaporkan bahwa serangan Israel di Lebanon menewaskan sedikitnya empat orang, sementara pasukan Lebanon mulai bergerak ke wilayah selatan yang selama berbulan-bulan menjadi lokasi pertempuran sengit. Sebelumnya, AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada akhir Februari, yang kemudian meluas ke berbagai wilayah lain di kawasan tersebut, termasuk Lebanon.

Di sisi lain, ketegangan di Teluk semakin meningkat dengan adanya serangan rudal Iran terhadap Kuwait dan Bahrain, serta serangan balasan AS terhadap Pulau Qeshm Iran yang terletak di dekat Selat Hormuz. Akibatnya, Selat Hormuz jalur perairan paling kritis bagi pasokan minyak global hampir sepenuhnya tertutup. Kondisi ini menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah dan memicu lonjakan harga yang berujung pada guncangan inflasi di berbagai negara.

Meskipun harga sempat terkoreksi pada akhir pekan, secara mingguan kontrak berjangka Brent masih mencatatkan kenaikan 0,9 persen, sementara WTI melonjak 3,2 persen. Angka ini mengindikasikan bahwa tekanan pasokan akibat konflik masih menjadi faktor dominan yang mendorong pergerakan harga.

Sementara itu, sebuah studi yang diterbitkan oleh Federal Reserve Bank of Boston pada Kamis lalu mencoba mengukur kerentanan ekonomi AS terhadap guncangan minyak yang dipicu konflik Timur Tengah. Para penulis studi tersebut menemukan bahwa guncangan harga minyak sebesar 33 persen yang merupakan estimasi dampak dari konflik AS-Iran kini hanya dikaitkan dengan peningkatan inflasi PCE sebesar 1,5 poin persentase selama setahun ke depan. Angka ini lebih rendah dibandingkan dampak serupa sebesar 2,2 poin persentase pada periode sebelum pertengahan 1970-an.

"Pada tahun 1970-an, guncangan ini akan dikaitkan dengan penurunan 1,8 poin persentase dalam lapangan kerja nasional selama tahun berikutnya. Namun, efeknya saat ini pada dasarnya nol," tulis para peneliti dalam studi tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi AS kini lebih tangguh dalam menghadapi gejolak harga energi dibandingkan beberapa dekade lalu.

Dari sisi data domestik AS, laporan penggajian non-pertanian bulan Mei melampaui ekspektasi pertumbuhan lapangan kerja pada Jumat lalu. Angka untuk bulan Maret dan April juga mengalami revisi ke atas yang signifikan. Data positif ini, yang muncul setelah serangkaian indikator tenaga kerja yang kuat sepanjang pekan, mengindikasikan bahwa sisi ketenagakerjaan dari mandat ganda Federal Reserve masih terkendali. Sebaliknya, sisi inflasi justru menjadi perhatian yang lebih besar.

Dengan harga minyak yang masih bertahan di level tinggi dan tekanan harga yang meningkat, laporan pekerjaan yang solid ini kemungkinan besar akan mengesampingkan prospek pemotongan suku bunga dalam waktu dekat. Bahkan, para pedagang pada hari Jumat meningkatkan probabilitas terjadinya kenaikan suku bunga tahun ini setelah data ketenagakerjaan tersebut dirilis.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar