Riset Ungkap: 1 dari 7 Anak Indonesia Terancam Timbal dari Cat hingga Alat Makan

- Jumat, 23 Januari 2026 | 19:12 WIB
Riset Ungkap: 1 dari 7 Anak Indonesia Terancam Timbal dari Cat hingga Alat Makan

Menurut Dr. dr. Then Suyanti, MM, Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, SKTD memberikan gambaran awal yang penting tentang seberapa luas masalah ini dan faktor risikonya.

“Data prevalensi kadar timbal darah dan potensi sumber utama paparan timbal sangat penting sebagai dasar perumusan kebijakan yang tepat sasaran. Tanpa data, upaya pencegahan akan sulit diukur dan dievaluasi,” jelas dr. Then.

Survei ini berhasil mengidentifikasi sumber paparan di lingkungan rumah. Lebih dari 20 persen sampel alat masak logam, alat makan dari keramik dan plastik, kosmetik, pakaian, bahkan mainan anak, mengandung timbal melebihi batas aman. Tak hanya itu, setiap kenaikan dua kali lipat kadar timbal di tanah, rata-rata kadar timbal darah anak naik 8 persen.

Edwin Siswono, epidemiolog dari Vital Strategies, menambahkan, temuan ini jadi landasan strategi efektif untuk mengurangi paparan.

“Temuan ini akan melengkapi keberhasilan Indonesia sebagai salah satu negara pertama yang mengembangkan pedoman klinis penanganan keracunan timbal yang selaras dengan rekomendasi WHO,” ungkapnya.

dr. Then menekankan, hasil SKTD ini menunjukkan bahwa penanganannya tak bisa dibebankan hanya pada sektor kesehatan. Perlu kolaborasi yang kuat.

“Dari hasil SKTD ini kita bisa melihat bahwa upaya pencegahan paparan timbal tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Diperlukan kerja bersama lintas sektor... Hasil SKTD ini tentunya juga diharapkan bisa mendukung penyusunan Rencana Aksi Nasional (RAN) Indonesia Bebas Timbal,” tutupnya.

Jadi, masalah ini kompleks. Butuh kerja sama banyak pihak, dari kesehatan, lingkungan, industri, sampai perdagangan. Agar upaya pencegahan tak sekadar wacana, tapi benar-benar konkret dan berkelanjutan.


Halaman:

Komentar