“Fokus pemulihan mulai dari pembersihan infrastruktur, pemulihan listrik, air, serta memastikan logistik medis tersedia, agar layanan kesehatan bisa berjalan optimal,” jelas Baron.
Tak hanya itu, dapur umum juga didirikan untuk memastikan para pejuang medis dan pasien mendapat asupan bergizi tiga kali sehari. “Kami menyadari bahwa tenaga kesehatan dan pasien adalah prioritas,” imbuh dr. Andika. Dukungan logistik semacam ini membantunya dan tim untuk fokus sepenuhnya pada satu hal: menyembuhkan pasien.
Upaya kolektif itu membuahkan hasil. Pascabencana, RSUD Muda Sedia akhirnya bisa dibuka kembali pada 9 Desember. Angkanya berbicara: hingga akhir tahun 2025, tercatat 507 pasien rawat inap, 2.350 pasien rawat jalan, dan 656 pasien ditangani di UGD. Ada pula 48 tindakan operasi, 8 perawatan ICU, dan 20 pasien yang menjalani cuci darah. Denyut rumah sakit benar-benar telah kembali.
“Harapan kami Pertamina terus mendukung dalam hal suplai air dan BBM untuk menghidupkan listrik, agar pelayanan bisa tetap terjaga. Dukungan Pertamina sangat penting dalam menjaga denyut nadi rumah sakit, dan kami harapkan akan terus tersedia hingga keadaan kembali normal,” kata Andika menutup pembicaraan.
Di sisi lain, bagi Pertamina, komitmen ini lebih dari sekadar program CSR. Baron memandangnya sebagai wujud kehadiran negara di tengah masyarakat yang sedang berjuang. “Energi bukan sekadar komoditas,” pungkasnya, “melainkan kekuatan untuk menyambung nafas dan harapan di tengah masa pemulihan.”
Sebagai perusahaan yang tengah bertransisi, Pertamina memang punya komitmen jangka panjang terhadap target Net Zero Emission 2060 dan tujuan pembangunan berkelanjutan. Tapi, di Aceh Tamiang, komitmen itu diterjemahkan secara nyata: dalam bentuk solar untuk genset, tangki air bersih, dan makanan hangat. Semua demi satu tujuan sederhana: menjaga agar pelita di balik dinding rumah sakit itu tak pernah padam.
Artikel Terkait
GTV Big Movies Sajikan Maraton Horor dan Laga, dari Lebah Pembunuh hingga Ular Raksasa
Setahun Tak Kunjung Hamil, Pakar Ungkap Pria Lebih Sering Jadi Penyebab
Jalan Damai Inara Rusli Ditolak, Kasus Pidananya Terus Berlanjut
Sindrom Stockholm: Mengapa Korban Justru Bersimpati pada Penculiknya?