Delapan tahun sudah berlalu sejak anak keempat saya lahir. Dalam rentang waktu yang panjang itu, saya menyaksikan sebuah kisah yang pilu. Kisah itu justru berubah menjadi belenggu mencekam bagi seorang perempuan bernama Yanti. Awalnya, saya mengira perkenalan kami akan jadi awal persahabatan yang indah. Ternyata, di baliknya tersimpan konflik batin yang begitu mengerikan.
Belenggu yang mengikat Yanti bukan dari besi, apalagi dinding penjara yang dingin. Jerujinya jauh lebih rumit. Itu lahir dari trauma masa lalu yang tak pernah tuntas. Luka batin itu mengeras, menjelma jadi kenyataan pahit yang perlahan merenggut kebebasan dan potensi seseorang yang dulu sangat saya kagumi.
Cerita Yanti mengingatkan kita dengan cara yang tajam. Di balik kemajuan zaman, ternyata masih ada air mata yang tumpah karena beban yang tak kasat mata. Ini bukan cuma tentang penderitaannya semata. Lebih dari itu, ini menunjukkan bagaimana trauma yang terabaikan bisa menjadi belenggu permanen. Bahkan, membawa seseorang pada takdir yang tak terpikirkan: pemasungan.
Dari Keheningan Lahir Sebuah Harapan
Saya mengenal Yanti tak lama setelah saya menikah. Dia pendiam, tapi suka menolong. Di balik keheningannya, tersimpan bakat yang luar biasa. Tangannya sangat apik merangkai manik-manik menjadi kerajinan hantaran pernikahan yang cantik. Setiap pulang ke kampung suami, saya selalu menyempatkan diri mampir ke rumahnya.
Saya sungguh kagum pada keuletannya. Meski cuma lulusan MTS, cita-citanya besar: punya toko hantaran sendiri. Setiap bercerita soal usahanya, matanya berbinar.
“Banyak tetangga yang percaya sama Yanti,” katanya suatu kali, penuh kebanggaan.
Tapi Yanti itu nyaris tanpa suara. Dia menjaga jarak, sangat hati-hati memilih lawan bicara. Hanya akan bercerita jika merasa aman. Kepribadiannya yang tertutup ini selalu membuat saya penasaran.
Kami butuh waktu cukup lama untuk bisa ngobrol dengan nyaman. Meski begitu, dia tak pernah menolak kunjungan saya. Perlahan, kami pun mulai akrab. Sesekali tertawa bersama momen kehangatan sederhana yang membuat saya makin mengagumi si pekerja keras di balik kerajinan manik-manik itu.
Harga Mahal Sebuah Larangan
Lama-kelamaan, saya mulai paham. Keheningan Yanti ternyata buah dari tekanan batin yang sudah mengendap bertahun-tahun. Dia anak pertama dari empat bersaudara, dibesarkan oleh ayah yang tabiatnya sangat keras. Sosok ayah inilah kunci dari semua trauma yang dia tanggung.
Puncaknya terjadi saat Yanti baru lulus MTS. Dia punya keinginan kuat untuk lanjut sekolah. Sayangnya, harapan itu harus pupus di tangan ayahnya sendiri.
Dilarang keras. Alasannya menyakitkan: biaya sekolah lebih diutamakan untuk adik-adiknya. Keputusan sepihak yang disampaikan dengan kasar itu ditambah memori kelam masa kecilnya membuat Yanti memilih menyimpan lukanya dalam diam. Suaranya seolah dicabut paksa dari dirinya.
Di situlah saya sadar. Luka batin yang tak terucap itu jadi benang tak kasat mata dalam hidupnya. Luka yang coba dia sembunyikan, dan mungkin dia “sembuhkan” dengan fokus merangkai manik-manik hantaran.
Saat Dunia Menjadi Asing
Lalu suatu ketika, saat saya kembali ke kampung, rumah Yanti terlihat sepi. Jendela-jendelanya tertutup. Tak ada tanda-tanda aktivitas merangkai manik-manik seperti biasa. Saya kaget, tentu saja.
Katanya, Yanti sudah berhenti dari usaha kerajinannya. Dia pindah ke Bandung, konon membantu saudaranya di sana. Saya berharap ini awal yang baik kesempatan buatnya menggapai mimpi punya toko, jauh dari tekanan masa lalu.
Tapi beberapa bulan kemudian, kabar buruk datang bagai petir di siang bolong. Yanti sudah pulang dari Bandung. Dia kembali ke rumah, tapi kondisinya berubah drastis. Baik fisik maupun mental.
Kabarnya yang paling menyakitkan: Yanti sudah tidak mengenali saya lagi. Sosok lembut yang dulu saya kenal kini jadi asing. Semua kehangatan yang pernah kami bagi seolah terhapus dari ingatannya.
Saya tak sempat melihat langsung perubahan mengerikan itu. Hanya mendengar cerita dari orang-orang. Kisah yang membuat hati teriris, menyadari bahwa titik balik hidupnya bukanlah awal baru, melainkan awal sebuah tragedi.
Tragedi Pemasungan di Era Modern
Yang paling memilukan, saya dengar Yanti kini dipasung di rumahnya sendiri. Orang tuanya terpaksa memasukkannya ke dalam jeruji kayu. Katanya, demi keselamatan keluarga dan Yanti sendiri, karena kadang dia bersikap agresif.
Sungguh, hati ini teriris. Di awal-awal pemasungan, saya sempat dengar teriakannya yang pilu menyayat. Saya hancur. Tak percaya praktik seperti ini, yang saya kira sudah musnah, ternyata masih ada tepat di depan mata, tanpa saya bisa berbuat apa-apa.
Keluarganya sudah berikhtiar, kok. Dibawa berobat ke rumah sakit jiwa. Pernah ada masanya dia terlihat normal, lalu berubah drastis lagi. Saya tak berhak menghakimi keputusan orang tuanya. Tapi sulit sekali menerima kenyataan bahwa di masa sekarang, masih ada perempuan yang harus mengalami ini.
Kondisinya sangat memprihatinkan. Katanya, sesekali dia tak mau dimandikan. Rambutnya sudah gimbal dan kotor, menyerupai punuk unta. Yanti, si perangkai harapan, kini terbelenggu. Dia jadi monumen bisu atas kegagalan kita menyembuhkan luka batin. Potensi seorang perempuan hebat, akhirnya dipasung oleh trauma yang tak tertangani.
Artikel Terkait
Menkes: Minuman Rendah Gula Bisa Mengecoh Tubuh, Picu Rasa Lapar Terus-Menerus
Andhika Pratama dan King Nassar Dipercaya Padu Padan Kontras di Program Baru RCTI
RCTI Hadirkan Program Baru Healing Jalur King Nassar, Hiburan Unik ala Raja Nyentrik
Keutamaan Puasa Dzulqa’dah di Hari Senin, Niat Gabung Dua Ibadah Sunah Sekaligus