Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih terus memanas di Timur Tengah. Situasinya makin pelik setelah Dewan Keamanan PBB turun tangan. Mereka baru saja mengesahkan resolusi yang secara tegas meminta Iran untuk menghentikan serangannya ke sejumlah negara di kawasan Teluk.
Menurut laporan AFP pada Kamis (12/3), DK PBB menilai aksi-aksi Iran itu telah melanggar hukum internasional. Bahkan, serangan-serangan tersebut dinilai sebagai "ancaman serius" bagi perdamaian dan keamanan global. Suara itu cukup bulat.
Voting yang digelar Rabu (11/3) waktu setempat menghasilkan 13 suara mendukung, sementara dua negara memilih abstain. Inti dari resolusi itu jelas: "menuntut penghentian segera semua serangan oleh Republik Islam Iran" yang menyasar Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania.
Tak cuma itu. Resolusi tersebut juga secara khusus mengecam segala upaya Iran yang berpotensi mengganggu lalu lintas pelayaran internasional di Selat Hormuz. Ancaman untuk menutup atau menghalangi selat strategis itu jelas bikin khawatir banyak pihak.
Semua ini berawal dari serangan AS dan Israel pada akhir Februari 2026 lalu, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Peristiwa itu ibarat memantik bara menjadi api peperangan. Sejak saat itu, Teheran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan gempuran drone dan rudal ke berbagai titik di wilayah tersebut.
Yang jadi masalah, serangan balasan Iran ini seringkali mengenai negara-negara tetangga yang mengklaim netral. Negara-negara ini bersikeras tidak terlibat dalam perang dan tidak mengizinkan wilayahnya digunakan untuk menyerang. Tapi, tampaknya, mereka tetap kena imbas.
Di sisi lain, Iran juga mengincar kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Jalur sempit itu adalah urat nadi perdagangan minyak dunia. Dengan mengganggu lalu lintas di sana, Iran seolah ingin menunjukkan bahwa mereka punya cara untuk menggoyang perekonomian global jika ditekan terus-menerus. Situasinya memang rumit, dan belum terlihat ujung pangkalnya.
Artikel Terkait
Orang Tua Korban Daycare Little Aresha: Perlakuan ke Anak Lebih Sadis dari Kamp Guantanamo
Pembicaraan Langsung AS-Iran Batal, Trump Batalkan Kunjungan Utusan ke Pakistan
Petani Sambut Target Swasembada Pangan Prabowo, Harap Ego Sektoral Dikikis
Mantan Wamenaker Noel Akui Terima Rp 3 Miliar dari Pejabat Kemnaker, Bantah Pemerasan