Fuji Berjuang Menahan Duka di Tengah Duka Lula Lahfah

- Kamis, 29 Januari 2026 | 20:30 WIB
Fuji Berjuang Menahan Duka di Tengah Duka Lula Lahfah

Suasana di Polres Jakarta Selatan, Kamis siang itu, terasa cukup ramai. Di tengah kerumunan, Fuji tampak mencoba menjaga komposisinya. Tapi sorot matanya yang sayu bicara banyak. Ketika nama Lula Lahfah, sahabatnya yang baru saja berpulang, disebut, seketika dinding pertahanannya retak.

"Jangan tanyain aku dong, nanti aku sedih," ucap Fuji, singkat namun sarat.

Kalimat itu seperti pintu yang ditutup rapat-rapat. Jelas, ia sama sekali belum siap untuk membuka luka yang masih sangat perih. Menurutnya, mengobrolkan Lula hanya akan mengguncang emosinya kembali. Lebih baik ia menahan diri, supaya kesedihan yang sudah coba ditahannya tidak semakin menjadi-jadi dan menggenang.

Namun begitu, kenangan itu selalu ada. Susah untuk diusir.

"Banyak, kak," ungkapnya tentang kenangan bersama Lula. "Aku dulu sering main." Kalimat pendek itu seolah mewakili segunung kisah kebersamaan yang sekarang cuma tinggal cerita. Kenangan-kenangan manis itulah yang justru paling menyakitkan untuk diurai di depan publik. Fuji memilih untuk menyimpannya rapat di dalam hati.

Di sisi lain, ada hal lain yang mengganjal. Sejak kepergian Lula, Fuji mengaku belum sekalipun sang sahabat menampakkan diri dalam mimpinya. Bahkan untuk kakak kandungnya sendiri yang juga telah berpulang, mimpi pun tak kunjung datang.

"Belum pernah mimpiin. Almarhum kakak aku aja aku enggak mimpiin," tuturnya, dalam sebuah pengakuan polos yang terdengar getir.

Sebelum pertemuan di Polres ini, Fuji sudah menunjukkan rasa dukanya. Saat kabar duka tersiar, ia langsung mendatangi rumah duka Lula di kawasan Fatmawati. Kehadirannya waktu itu adalah bentuk penghormatan terakhir, sekaligus pengakuan atas betapa berartinya sosok Lula.

Ia tak datang sendirian. Ditemani Erika Carlina dan Rachel Vennya, Fuji mengikuti rangkaian doa dan tahlilan untuk almarhumah. Kehadiran mereka barangkali adalah pelipur kecil bagi keluarga yang berduka, sekaligus bukti bahwa Lula punya tempat istimewa di hati banyak orang.

Kepergian Lula Lahfah jelas meninggalkan luka. Bagi Fuji, sahabatnya itu adalah bagian dari perjalanan hidup yang tak tergantikan. Dan untuk sekarang, yang bisa ia lakukan hanyalah mengingat, merindukan, dan berusaha tegar meski beban di pundaknya terasa begitu berat.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar