Suasana di Polres Jakarta Selatan, Kamis siang itu, terasa cukup ramai. Di tengah kerumunan, Fuji tampak mencoba menjaga komposisinya. Tapi sorot matanya yang sayu bicara banyak. Ketika nama Lula Lahfah, sahabatnya yang baru saja berpulang, disebut, seketika dinding pertahanannya retak.
"Jangan tanyain aku dong, nanti aku sedih," ucap Fuji, singkat namun sarat.
Kalimat itu seperti pintu yang ditutup rapat-rapat. Jelas, ia sama sekali belum siap untuk membuka luka yang masih sangat perih. Menurutnya, mengobrolkan Lula hanya akan mengguncang emosinya kembali. Lebih baik ia menahan diri, supaya kesedihan yang sudah coba ditahannya tidak semakin menjadi-jadi dan menggenang.
Namun begitu, kenangan itu selalu ada. Susah untuk diusir.
"Banyak, kak," ungkapnya tentang kenangan bersama Lula. "Aku dulu sering main." Kalimat pendek itu seolah mewakili segunung kisah kebersamaan yang sekarang cuma tinggal cerita. Kenangan-kenangan manis itulah yang justru paling menyakitkan untuk diurai di depan publik. Fuji memilih untuk menyimpannya rapat di dalam hati.
Artikel Terkait
Acha Septriasa Buka Luka Masa Kecil, Ubah Luka Jadi Pedoman Jadi Ibu
Boiyen Ajukan Cerai, Vincent Rompies Sudah Tahu Bakal Begini
Tawa dan Kebingungan Ammar Zoni Saat Saksi Ungkap Pohon Narkoba di Rutan
Ammar Zoni Berdzikir dengan Tasbih di Tengah Sidang Narkoba