IHSG akhirnya bangkit. Setelah sehari terpuruk oleh sentimen negatif, bursa saham Indonesia menutup perdagangan Rabu (8/4/2026) dengan kenaikan yang cukup signifikan. Pasar seolah menarik napas lega.
Sehari sebelumnya, situasinya suram. Indeks Harga Saham Gabungan bertengger di 6.971,03, sementara rupiah terdepak hingga ke level Rp17.100 per dolar AS. Pemicunya? Eskalasi ketegangan AS-Iran dan harga minyak yang melonjak, yang membuat para investor memilih bermain aman. Namun suasana itu berubah total. Kabar gencatan senjata selama dua pekan datang bagai angin segar, mendorong tidak hanya IHSG, tetapi juga pasar-pasar regional lainnya. Aktivitas jual-beli di Bursa Efek Indonesia pun ikut menggeliat.
Namun begitu, di balik euforia ini, ada suara yang mengingatkan untuk tidak terlalu cepat berpuas diri.
Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, melihat penguatan ini lebih sebagai perbaikan sentimen sesaat. Fondasi dasarnya, menurutnya, belum banyak berubah.
Ia juga menyoroti dua hal yang perlu terus diawasi: pergerakan rupiah dan ancaman arus keluar modal asing. Tekanan global dan defisit fiskal yang melebar menjadi latar belakangnya.
Artikel Terkait
Ekonomi Digital Indonesia Tembus USD 100 Miliar, AI Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
IHSG Melonjak 2,02% di Sesi I, Didorong Aksi Beli Luas
BEI Soroti Sembilan Emiten dengan Kepemilikan Saham Terlalu Terkonsentrasi
Gencatan Senjata AS-Iran Pacu Bursa Asia Menguat, Investor Tetap Waspada