Di sisi lain, semua kenaikan biaya produksi ini akhirnya berimbas ke harga jual. Mau nggak mau, pelanggan akan merasakan penyesuaian. Arif menyebut, lonjakan harga bahan baku di pasar global saat ini sudah sangat signifikan, bahkan mengkhawatirkan.
“Untuk kemasan plastik, kabarnya naiknya bisa sampai 50-60 persen. Produk-produk kami di Asia Pramulia pun akhirnya menyesuaikan dengan kondisi harga bahan baku yang berlaku sekarang,” paparnya.
Nah, buat mengantisipasi risiko ke depan, ASPR nggak tinggal diam. Mereka terapkan manajemen stok yang ketat, plus bikin kontrak jangka panjang dengan beberapa pemasok. Strategi hedging juga dipakai untuk melindungi diri dari gejolak nilai tukar yang bisa membebani biaya impor.
Meski dibayangi tantangan biaya yang mencekik, optimisme tetap ada. Permintaan plastik untuk sektor Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) masih terlihat cerah. Masyarakat yang masih tinggi ketergantungannya pada air minum siap konsumsi jadi alasan kuat buat perusahaan terus ekspansi di segmen itu.
“Kami pantau kondisi global tiap hari, analisis terus biar stok nggak kelebihan tapi juga nggak kurang,” kata Arif menutup penjelasannya.
“Kontrak dengan supplier juga kami jaga, supaya pasokan tetap stabil.”
Artikel Terkait
BI Sebut Ruang Turunkan Suku Bunga Makin Sempit Imbas Gejolak Global
AISA Rencanakan Kuasi Reorganisasi untuk Hapus Akumulasi Kerugian Rp2,7 Triliun
Wall Street Melonjak Usai Gencatan Senjata AS-Iran-Israel, Harga Minyak Anjlok
OJK Ingatkan Galbay dari Pinjol Rusak Masa Depan Keuangan