Namun begitu, ceritanya mulai berubah sejak 2023. AISA berhasil bangkit. Mereka konsisten mencetak laba usaha dan laba bersih. Perbaikan ini didorong oleh beberapa hal: ekspansi jaringan distribusi, efisiensi biaya produksi, dan tentu saja, peluncuran produk-produk baru yang mampu bersaing di pasar.
Nah, dengan kuasi reorganisasi ini, harapannya jelas. Manajemen AISA ingin benar-benar mendapatkan "fresh start". Mereka ingin fokus membangun kinerja ke depan tanpa terus-terusan terbebani defisit masa lalu. Di sisi lain, struktur ekuitas perusahaan juga akan tampak lebih sehat. Ini penting, lho, untuk menarik pendanaan baru dan yang dinanti investor membuka peluang pembagian dividen.
Saat ini, prosesnya sudah berjalan. Perusahaan sedang mengajukan permohonan ke Kementerian Hukum terkait rencana pengurangan modal. Mereka optimis syarat-syarat kuasi reorganisasi bisa terpenuhi, mengingat kinerja positif yang telah ditunjukkan dalam tiga tahun terakhir.
Rencananya, pada 15 Mei 2026 mendatang, akan digelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Di sinilah restu dari para pemegang saham akan diminta. Saat ini, PT Pangan Sejahtera Investama memegang kendali sebagai pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 58,47 persen.
Jadi, langkah AISA ini seperti usaha reset keuangan. Mereka menatap masa depan dengan lebih ringan, setelah bertahun-tahun menanggung beban dari masa lalu.
Artikel Terkait
BI Sebut Ruang Turunkan Suku Bunga Makin Sempit Imbas Gejolak Global
PT Asia Pramulia Beralih ke Impor Bahan Baku Akibat Konflik Timur Tengah
Wall Street Melonjak Usai Gencatan Senjata AS-Iran-Israel, Harga Minyak Anjlok
OJK Ingatkan Galbay dari Pinjol Rusak Masa Depan Keuangan