“Konflik ini kemungkinan besar akan berlanjut dengan serangan atau peningkatan retorika dari kedua sisi yang membuat pasar kembali gelisah,” ujarnya.
Tekanan terasa kuat di sektor teknologi. Indeks teknologi S&P 500 anjlok 1,7 persen. Apple jadi penyumbang duka terbesar, sahamnya terjun bebas 3,8 persen dan memberatkan ketiga indeks utama. Untungnya, ada secercah cahaya dari Broadcom. Sahamnya melonjak 3 persen setelah perusahaan itu mengikat kesepakatan jangka panjang dengan Google untuk urusan chip AI. Itu sedikit meredam pelemahan.
Di sisi lain, sektor energi justru menikmati situasi yang serba tak pasti ini, menguat 1,8 persen. Ada juga kejutan dari saham UnitedHealth yang melesat 7,7 persen, membantu menahan laju penurunan Dow Jones. Kenaikan ini dipicu keputusan pemerintah AS yang menaikkan pembayaran untuk program Medicare Advantage. Saham Humana dan CVS Health ikut merasakan imbas positifnya, masing-masing naik 4,5 persen dan 3,7 persen.
Pada pukul 10.08 waktu setempat, kerugian sudah terlihat jelas. Dow Jones merosot 0,88 persen ke 46.261,01. S&P 500 melemah 0,99 persen ke 6.546,61. Sementara Nasdaq, yang penuh dengan saham teknologi, terpukul paling dalam dengan koreksi 1,45 persen ke 21.677,16.
Padahal, semangat pasar sebelumnya masih cukup baik. Wall Street ditutup menguat pada Senin, melanjutkan reli empat hari berturut-turut untuk S&P 500 dan Nasdaq. Kala itu, investor masih mencermati perkembangan konflik sambil bersiap menyambut musim laporan keuangan.
Kini, semua mata tertuju pada data inflasi mendatang. Kenaikan harga minyak akibat konflik ini pasti akan memberi tekanan harga baru. Perang dengan Iran ini jelas mempersulit pekerjaan The Federal Reserve. Di tengah kekhawatiran inflasi yang bisa kembali merayap naik, prospek suku bunga jadi makin ruwet untuk diprediksi.
Artikel Terkait
Menteri Zulhas Klaim Ketahanan Pangan Indonesia Aman hingga 2027
PMJS Amankan Kontrak Rp10,83 Triliun untuk Suplai 20.600 Truk Ringan
Pendapatan SSIA Anjlok 30%, Rugi Bersih Rp89,4 Miliar di 2025
Sari Roti Bagikan Dividen Rp450 Miliar, Yield Capai 10,6%