Wall Street kembali digoyang ketegangan geopolitik. Pada pembukaan Selasa (7/4/2026), bursa saham AS langsung berwarna merah, mencerminkan kecemasan investor yang kian menjadi. Pemicunya jelas: tenggat waktu dari Presiden Donald Trump kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz hampir habis, dan respons dari Teheran sama sekali tidak menggembirakan.
Suasana makin panas setelah AS dilaporkan menyerang target militer Iran di Pulau Kharg. Pulau itu bukan sembarang tempat, melainkan pusat ekspor minyak mereka. Sebagai balasan, Iran tak lagi mau menahan diri. Mereka mengancam akan menyerang infrastruktur negara-negara Teluk.
Belum cukup, ada ancaman lain yang menggantung. Iran juga memperingatkan soal potensi penutupan jalur pelayaran Bab el-Mandeb jika situasi terus memburuk. Semua ini terjadi dalam hitungan jam menuju batas waktu yang ditetapkan Trump.
Menurut Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer Northlight Asset Management, pasar sedang menyadari sesuatu yang pahit.
“Apa yang terlihat dari reaksi pasar adalah pengakuan bahwa akhir konflik tidak sedekat yang diharapkan,” katanya.
Dia menambahkan, eskalasi serangan dan retorika dari kedua belah pihak membuat pelaku pasar berada dalam posisi tidak nyaman dan meningkatkan risiko skenario yang lebih buruk.
Artikel Terkait
Menteri Zulhas Klaim Ketahanan Pangan Indonesia Aman hingga 2027
PMJS Amankan Kontrak Rp10,83 Triliun untuk Suplai 20.600 Truk Ringan
Pendapatan SSIA Anjlok 30%, Rugi Bersih Rp89,4 Miliar di 2025
Sari Roti Bagikan Dividen Rp450 Miliar, Yield Capai 10,6%