“Upaya menjaga stabilitas tetap penting, namun konsekuensinya adalah meningkatnya tekanan terhadap fiskal dan cadangan devisa,” tambah Rully.
Data hari itu pun menggambarkan suasana suram: net sell investor asing masih tinggi, mencapai Rp623 miliar.
Dari kacamata teknikal, prospeknya juga belum cerah. Muhammad Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst di perusahaan yang sama, menilai IHSG masih terjebak dalam fase konsolidasi bearish.
“IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support di 6.892 hingga 6.731, sementara resistance terdekat berada di kisaran 7.117 hingga 7.222,” jelas Nafan.
Intinya, selama level resistance itu belum tertembus, tekanan jual akan tetap mendominasi pergerakan indeks untuk sementara waktu.
Tapi bukan berarti sama sekali tak ada peluang. Di tengah awan kelabu ini, Nafan justru melihat beberapa titik terang untuk trading yang sangat selektif. Dia mencatat, saham Barito Pacific (BRPT) menunjukkan tanda-tanda akumulasi. Elnusa (ELSA) terlihat sudah oversold, sementara Map Aktif Adiperkasa (MAPA) tampaknya sedang dalam fase konsolidasi bullish.
“Pergerakan indeks dan saham saat ini menunjukkan pasar masih cenderung berhati-hati, dengan peluang trading yang lebih selektif," pungkas Nafan.
Jadi, situasinya jelas: hati-hati adalah kata kunci. Pasar sedang menunggu katalis positif, sambil bersiap menghadapi kemungkinan tekanan yang masih bisa berlanjut.
Artikel Terkait
Black Diamond Resources (COAL) Merambah Bisnis Maritim dengan Bentuk Anak Usaha
Pemerintah Klaim Pelemahan Rupiah ke Rp17.100 Masuk dalam Skenario Simulasi
IHSG Ditutup Turun 0,44% ke 6.958,47 Didominasi Tekanan Jual
IHSG Anjlok ke 6.971, Mayoritas Sektor Tergerus Tekanan Jual