MDKA Proyeksikan Kontribusi Emas Melonjak Signifikan pada 2026

- Minggu, 05 April 2026 | 17:35 WIB
MDKA Proyeksikan Kontribusi Emas Melonjak Signifikan pada 2026

Sementara itu, proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) milik PT Sulawesi Nickel Cobalt juga mencuri perhatian. Dengan kapasitas terpasang 90.000 ton nikel per tahun dalam bentuk MHP, commissioning untuk lini produksi pertamanya ditargetkan dimulai pertengahan 2026. Target produksi bijih pun dinaikkan. Lewat anak usahanya, Merdeka Battery Materials (MBMA), perusahaan mengejar peningkatan produksi bijih saprolit menjadi 8-10 juta wmt dan bijih limonit 20-25 juta wmt tahun ini. Peningkatan pasokan ini diharapkan mendorong efisiensi biaya, bahkan mencapai swasembada 100% untuk memasok tiga fasilitas RKEF mereka.

Laporan keuangan 2025 sendiri memperlihatkan tantangan. MDKA mencatat kerugian yang membengkak 11,29% menjadi USD62,06 juta atau sekitar Rp1,06 triliun. Meski angka itu terlihat besar, secara operasional segmen nikel ternyata tetap menjadi penyumbang utama penerimaan, dengan kontribusi USD1,43 miliar dari MBMA.

Dari lapangan, produksi saprolit mencapai 7 juta wmt dan limonit sekitar 14,7 juta wmt di tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM)sepanjang tahun lalu. Untuk emas, Tujuh Bukit menghasilkan 103.156 ounces dengan nilai penjualan USD327 juta. Adapun segmen tembaga dari Wetar menghasilkan 10.454 ton.

Jadi, meski dihiasi angka merah di laporan laba rugi, MDKA tampaknya sedang membangun fondasi untuk lompatan yang lebih solid. Semua mata kini tertuju pada realisasi target emas di 2026 dan apakah momentum dari Pani bisa menjadi game changer yang mereka janjikan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar