Tak cuma itu, gas yang dipakai pembangkit listrik pun ikut terdongkrak 19,42 persen. Ini seiring dengan penyesuaian harga grosir oleh operator pipa negara, Botas. Pemerintah menyebut sistem tarif bertingkat ini tetap dipertahankan. Tujuannya, katanya, untuk mengatur konsumsi dan mendistribusikan beban biaya secara lebih efisien.
Memang, pasokan langsung ke Turki belum sampai terganggu. Namun begitu, negara ini tetap tak bisa menghindar dari efek domino krisis global. Gangguan di jalur vital seperti Selat Hormuz, misalnya, langsung berimbas pada ketidakstabilan harga.
Menyikapi hal ini, pemerintah sebenarnya sudah menyiapkan anggaran subsidi energi sebesar USD6,87 miliar untuk tahun 2026. Tapi angka itu dinilai masih sangat rapuh. Jika krisis energi terus berlanjut, anggaran tersebut berpotensi meledak hingga USD20,86 miliar. Beban fiskal yang sangat serius.
Sejak eskalasi konflik Timur Tengah, harga minyak Brent nyaris dua kali lipat, menyentuh sekitar USD109 per barel. Kenaikan harga gas di Eropa ikut memperkeruh situasi, menambah tekanan pada biaya energi di seluruh dunia. Lewat kebijakan penyesuaian tarif ini, Ankara berharap bisa menjaga neraca keuangannya tetap stabil. Sekaligus, tentu saja, memastikan pasokan energi dalam negeri tetap berjalan di tengah pasar global yang makin bergejolak.
Artikel Terkait
PTBA Targetkan Reaktivasi Tambang Warisan Dunia Ombilin pada 2026
OJK: Potensi Penurunan Bobot Saham di MSCI Hanya Dampak Sementara
Saham ESIP Melonjak 25%, Ini Profil Emiten Kemasan Plastik
IHSG Turun 0,53%, Mayoritas Sektor dan Saham Tertekan