Video Saksi Ungkap Beda Cerita, Operasi Imigrasi Federal di Minneapolis Dikurangi

- Selasa, 27 Januari 2026 | 08:35 WIB
Video Saksi Ungkap Beda Cerita, Operasi Imigrasi Federal di Minneapolis Dikurangi

Operasi penegakan imigrasi federal di Minneapolis bakal dikurangi. Sejumlah agen mulai ditarik hari ini, menyusul insiden penembakan mematikan yang memicu gelombang kemarahan. Wali Kota Jacob Frey jelas-jelas mendesak agar semua personel federal segera angkat kaki dari kotanya.

"Beberapa agen federal akan mulai meninggalkan wilayah ini besok," tegas Frey, Selasa lalu. Ia menambahkan, dorongan agar seluruh pihak yang terlibat operasi ini pergi akan terus ia lakukan.

Sebelumnya, Frey sempat berbicara langsung dengan Presiden Trump. Unggahan di media sosialnya menyebutkan bahwa Trump pun setuju situasi yang memanas ini tak boleh dibiarkan berlarut.

Pemicu semua ini adalah sebuah insiden berdarah Sabtu lalu. Petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) menembak mati seorang warga negara AS di Minneapolis. Reaksinya cepat: protes keras dan kecaman pedas mengalir dari para pemimpin lokal.

Versi pemerintah federal, yang disampaikan Departemen Keamanan Dalam Negeri, menyebut ini sebagai serangan. Katanya, agen patroli perbatasan terpaksa menembak untuk membela diri. Seorang pria disebut mendekat dengan pistol dan melawan keras saat upaya pelucutan senjata dilakukan.

Tapi, cerita itu langsung dipertanyakan. Ada video dari saksi mata di lokasi yang sudah diverifikasi memperlihatkan gambaran yang jauh berbeda. Pria itu, Alex Pretti (37), terlihat memegang telepon, bukan senjata api. Saat kejadian, dia dikabarkan sedang berusaha menolong pengunjuk rasa lain yang sudah dibanting ke tanah oleh para agen.

Rekaman itu bercerita lebih detail. Pretti terlihat merekam aksi agen federal yang mendorong seorang wanita dan menjatuhkan orang lain. Dia lalu bergerak menghalangi, berdiri di antara para agen dan wanita-wanita itu. Tangannya terangkat, berusaha melindungi diri, sementara semprotan merica dihujankan ke arahnya.

Saat Pretti berbalik dan mencoba menolong wanita yang terjatuh, semprotan merica itu tak berhenti. Dia berusaha mengangkat wanita itu, tapi beberapa agen malah menariknya paksa. Pretti kemudian dipaksa berlutut.

Lalu, salah satu agen merogoh sesuatu dari pinggang Pretti sebelum buru-buru menjauh. Hanya beberapa detik berselang, suasana berubah mencekam. Seorang petugas lain, dengan pistol sudah terhunus, menembakkan empat peluru beruntun ke arah punggung Pretti.

Tembakan-tembakan lain menyusul, seiring dengan agen lain yang juga melepaskan tembakan. Setelah itu, mereka semua mundur, meninggalkan jasad Pretti terbaring.

Beberapa agen kemudian mendekat, seolah menawarkan bantuan medis. Sementara yang lain bertugas mengawasi, mencegah warga mendekati lokasi.

Insiden ini langsung menyulut amarah. Ratusan massa turun ke jalan, berhadapan langsung dengan agen-agen bersenjata dan bertopeng yang membalas dengan gas air mata serta granat kejut. Solidaritasnya meluas protes serupa meletus di New York, Washington DC, dan San Francisco.

Di sisi lain, ketegangan antara pejabat negara bagian dan federal pun memuncak. Perselisihan ini sebenarnya sudah lama mengendap, terutama sejak penembakan warga AS lain, Renee Good, awal Januari lalu. Puncaknya, pemerintah federal menolak keterlibatan pejabat lokal dalam penyelidikan kasus-kasus ini, memperuncing jurang ketidakpercayaan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar