Analis pasar lain, Tony Sycamore dari IG, punya pandangan menarik. Menurutnya, berakhirnya konflik justru bisa jadi pedang bermata dua bagi logam kuning ini.
"Di satu sisi, perdamaian yang berkelanjutan akan menghilangkan permintaan 'safe haven' yang sebelumnya menopang harga," kata Sycamore.
"Tapi di sisi lain, turunnya harga minyak dan meredanya inflasi bisa menghidupkan kembali ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026. Dan itu justru diperkirakan akan membantu harga emas," lanjutnya.
Perlu diingat, Maret lalu bukan bulan yang baik bagi emas. Logam mulia ini tercatat anjlok lebih dari 11 persen sepanjang bulan itu. Penyebabnya? Lonjakan harga energi akibat perang Iran yang memicu kekhawatiran inflasi baru. Kekhawatiran itu memaksa pasar untuk mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga.
Memang, emas selalu dianggap sebagai pelindung nilai di kala gejolak geopolitik dan inflasi melanda. Tapi, ketika suku bunga tinggi seperti sekarang, daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil ini pasti berkurang.
Data ekonomi AS terbaru juga cukup solid. Laporan ADP menunjukkan perekrutan sektor swasta meningkat stabil di Maret. Penjualan ritel pada Februari juga naik dengan cukup kuat, meski ada kekhawatiran lonjakan harga bensin bisa menekan daya beli konsumen dalam beberapa bulan mendatang.
Di pasar logam mulia lainnya, perak spot naik 1,2 persen ke USD 76,03 per ons. Platinum menguat 1,6 persen ke USD 1.979,30, sementara paladium naik 1,3 persen ke level USD 1.495,95.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 1,07%, Sektor Industri Paling Terpukul di Awal Perdagangan
Harga Emas Batangan di Pegadaian Naik Signifikan pada Kamis
Pasar Valas Antisipasi Pidato Trump Soal Gencatan Senjata Teluk
IHSG Rebound 1,93% Didorong Deeskalasi Timur Tengah, Saham Konglomerat Melonjak