Sementara itu, dari sisi operasional, Direktur Operasional SUNI Bambang Prihandono menyampaikan persiapan yang tengah berjalan. Perusahaan terus menyiapkan sumber daya seiring rencana operasi pabrik baru. Beberapa uji coba produksi di fasilitas itu diklaim telah memberikan hasil yang cukup baik.
Tak hanya itu, SUNI juga mulai mengembangkan produk-produk baru. Tujuannya jelas: mengoptimalkan peningkatan kapasitas produksi dari pabrik kedua RTM.
Bambang juga menyoroti peran anak usaha lainnya, PT Petro Synergy Manufacturing (PSM). "Setelah memperoleh sertifikasi API dan TKDN, PSM telah beroperasi secara komersial dan diharapkan dapat terus meningkatkan kapabilitas dan pasarnya sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap kinerja SUNI,” katanya.
PSM, yang fokus memproduksi wellhead dan x’mas tree, diharapkan bisa mendukung perseroan dengan produk berstandar internasional dan harga kompetitif, sekaligus memenuhi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Di bagian keuangan, ceritanya agak berbeda. Direktur Keuangan SUNI Freddy Soejandy melihat kinerja positif yang mendukung tercapainya target laba.
“Sepanjang tahun 2025, perseroan telah merealisasikan belanja modal (capex) sebesar Rp190 miliar untuk menyelesaikan pembangunan pabrik ke-2 RTM. Perseroan akan dapat memenuhi kebutuhan dana untuk penyelesaian pabrik tersebut karena tahun depan sudah tidak akan terlalu signifikan lagi pengeluaran capexnya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata Freddy.
Beberapa catatan keuangan lain juga menarik. Total ekuitas SUNI naik 10% menjadi Rp863 miliar. Peningkatan ini bersumber dari laba tahun berjalan, setelah dikurangi pembagian dividen Rp50 miliar dan aksi buyback saham senilai Rp70 miliar.
Meski utang bank meningkat seiring pembangunan pabrik, rasio Debt to Equity Ratio (DER) perusahaan tetap terjaga di angka 0,30 kali. Angka ini jauh lebih rendah dari batas ketentuan kredit yang maksimal 2,5 kali.
Arus kas dari aktivitas operasi SUNI di 2025 positif Rp93 miliar, meski turun 65% YoY karena pembayaran ke supplier. Pengeluaran kas untuk investasi cukup signifikan, sekitar Rp200 miliar, yang sebanding dengan tahun sebelumnya. Dana ini terutama untuk melanjutkan pembangunan pabrik kedua RTM di Batam. Sementara dari aktivitas pendanaan, arus kas bersih yang keluar sebesar Rp33 miliar digunakan untuk buyback saham dan dividen, di samping ada penerimaan pinjaman untuk pembangunan pabrik.
Artikel Terkait
Harga Emas Melonjak 1,95% Didorong Pelemahan Dolar dan Isu De-eskalasi Timur Tengah
IHSG Rebound 1,93% Didorong Deeskalasi Timur Tengah, Saham Konglomerat Melonjak
Lippo Karawaci Alokasikan Rp250 Miliar untuk Buyback Saham hingga 4,6%
Saham KRYA Anjlok Lebih dari 60%, Didorong Aksi Jual Pengendali Baru