Kebakaran SPBE di Bekasi Diduga Dipicu Kebocoran Gas dan Korsleting, 12 Orang Luka Bakar

- Kamis, 02 April 2026 | 09:10 WIB
Kebakaran SPBE di Bekasi Diduga Dipicu Kebocoran Gas dan Korsleting, 12 Orang Luka Bakar

Suasana malam di Cimuning, Bekasi, berubah jadi mencekam Rabu (1/4) malam lalu. Sekitar pukul setengah sepuluh, api tiba-tiba melahap area Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di Jalan Cinyosog. Ledakan keras terdengar, disusul kobaran api yang menerangi langit. Akibatnya, dua belas orang harus dilarikan dengan luka bakar yang cukup serius.

Nino, dari call center Damkar Kota Bekasi, membenarkan kejadian itu saat dihubungi malam itu. Suaranya terdengar sigap di tengah keriuhan latar.

"Benar terjadi kebakaran. Petugas kami masih melakukan pemadaman," ujarnya.

Upaya pemadaman tak main-main. Belasan unit mobil pemadam dikerahkan dari berbagai pos, berjibaku hampir sepanjang malam. Baru sekitar pukul 3.45 pagi, api berhasil ditaklukkan. Meski begitu, kerusakan yang terjadi sudah parah. Area SPBE itu nyaris hancur total.

Lalu, apa pemicu awal bencana ini? Menurut Heryanto, Pelaksana Tugas Kepala Disdamkarmat Kota Bekasi, dugaan sementara mengarah pada kebocoran gas elpiji. Informasi ini dia dapat dari keterangan warga sekitar yang mencium bau gas tak biasa sebelum kejadian.

"Kita tunggu hasil penyelidikan pihak berwajib. Namun infonya kebocoran gas," kata Heryanto, Kamis (2/4).

Namun begitu, kebocoran gas saja tak akan meledak tanpa pemicu. Diduga, ada arus pendek atau korsleting listrik di sekitar lokasi. Percikan api kecil itulah yang kemudian menyulut gas yang sudah bocor, berubah jadi ledakan dahsyat dan bola api yang menghanguskan segalanya.

"Karena warga bilang ada bau gas. Jadi pemicunya adalah salah satunya arus pendek yang menyebabkan ledakan gas. Itu berdasarkan informasi ya," jelas Heryanto lagi, menegaskan bahwa analisis ini masih bersifat sementara.

Pemandangan di lokasi pasca-kejadian pastilah memilukan. Sisa-sisa kebakaran dan bangunan yang hangus jadi saksi bisu betapa cepatnya musibah itu terjadi. Saat ini, proses penyelidikan lebih mendalam masih terus dilakukan untuk memastikan kronologi dan penyebab pastinya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags