Lalu, sampai kapan ini akan berlangsung? Menurut Sucor, kita masih di tahap awal. Koreksi baru berjalan sekitar 1,8 bulan, sementara median historisnya bisa mencapai 4,4 bulan. Jadi, volatilitas tinggi masih sangat mungkin terjadi sebelum pasar benar-benar menemukan dasarnya.
Di sisi lain, secara fundamental situasi belum sampai runtuh. Krisis sistemik biasanya ditandai pelemahan makro yang luas dan berkelanjutan. Kondisi ekonomi Indonesia saat ini, meski ditekan dari luar dan dalam, dinilai masih relatif stabil. Yang penting, dalam catatan sejarah, pasar saham Indonesia selalu bangkit setelah setiap fase bear market.
Rata-rata pemulihannya bahkan menunjukkan potensi IHSG naik sekitar 1,23 kali dari level sebelum krisis. Itu mengindikasikan peluang menuju area 11.200 dalam jangka menengah setelah semua badai ini reda.
Kekuatan kita ada di struktur ekonomi domestik. Populasi lebih dari 280 juta jiwa, pertumbuhan kelas menengah, konsumsi rumah tangga yang jadi penopang utama PDB, plus kekayaan alam seperti nikel dan sawit. Itu fondasi yang kokoh.
Bear market bisa mengganggu, tapi tidak pernah membalikkan arah pertumbuhan struktural jangka panjang.
"Kenaikan premi risiko membuka ruang bagi investor untuk secara selektif mengoleksi saham-saham berkualitas tinggi sebelum sentimen pasar kembali pulih," kata Sucor.
Intinya, lihatlah ini dari kacamata yang lebih panjang. Koreksi memang menyakitkan, tapi di baliknya selalu ada peluang terselip bagi yang sabar dan teliti.
Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Stagnan, Harga Buyback Turun Rp80.000 per Gram
Harga Jual Emas Antam Stagnan, Harga Buyback Anjlok Rp80.000
Harga Minyak Jatuh 11% Usai Trump Tunda Serangan ke Iran
Wall Street Melonjak Usai Trump Tunda Ancaman Serangan ke Iran