Sentimen konsumen AS juga ikut merosot. Survei awal University of Michigan menunjukkan angka untuk Maret turun ke 55,5 dari 56,6 di akhir Februari.
Di sisi lain, harga minyak mentah masih bandel bertahan di sekitar level 100 dolar AS per barel. Konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda reda, meski pemerintahan Donald Trump sempat menyatakan konflik bisa segera diselesaikan. Upaya meredam harga lepas pelepasan cadangan darurat oleh IEA dan izin sementara AS untuk membeli minyak Rusia yang tertahan, sejauh ini belum membuahkan hasil.
Pada pukul 10.10 waktu New York, pergerakan indeks terlihat positif. Dow Jones naik 197,09 poin (0,42%) ke 46.874,94. S&P 500 menguat 28,78 poin (0,43%) ke 6.701,40, sementara Nasdaq bertambah 89,51 poin (0,40%) menjadi 22.401,49.
Indeks ketakutan pasar, CBOE VIX, mereda ke 25,37. Semua 11 sektor di S&P 500 catat keuntungan, dengan utilitas memimpin kenaikan sebesar 1,4%.
Namun begitu, ada catatan penting di balik rebound hari ini. Indeks S&P 500 dan Dow masih berada di jalur untuk mencatatkan penurunan mingguan ketiga secara berturut-turut. Jadi, meski hari ini hijau, suasana hati pasar secara keseluruhan belum sepenuhnya cerah.
Artikel Terkait
CBDK Catat Laba Bersih Rp1,36 Triliun, Melonjak 48% di 2025
BCA Bagikan Dividen Final Rp34,5 Triliun, Total 2025 Capai Rp41,4 Triliun
Persiapan Mudik Lebaran 2026: Ban Tepat Jadi Kunci Hemat Daya Mobil Listrik
MR.D.I.Y Indonesia (MDIY) Catat Laba Bersih Rp1,1 Triliun dan Usul Dividen 40%