Di sisi lain, ada secercah optimisme di akhir tahun. Kinerja kuartal IV-2025 ternyata menunjukkan perbaikan. Hal ini didorong oleh membaiknya harga batu bara jenis 6000 NAR di pasar Newcastle. Faktor-faktor seperti ekspektasi cuaca yang lebih dingin, menipisnya cadangan gas di Eropa, plus meningkatnya ketegangan geopolitik ikut mendongkrak sentimen pasar.
Dari sisi penjualan, mayoritas batu bara AADI tepatnya 71 persen masih dialirkan untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Sisa 29 persennya diserap industri semen dan sektor lainnya. Pasar domestik masih menjadi andalan dengan kontribusi 25 persen, disusul India (18 persen) dan China (15 persen).
Melihat ke depan, perusahaan sudah menyiapkan target. Untuk tahun 2026, mereka membidik penjualan 71,94 juta ton dengan produksi sekitar 65,82 juta ton, tentu setelah penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Posisi keuangan mereka pada akhir 2025 juga menunjukkan perubahan. Total aset turun 5 persen, sementara liabilitas atau kewajiban justru turun lebih dalam, 22 persen. Kas dan setara kas yang dimiliki perusahaan juga lebih rendah, berkurang 22 persen menjadi USD 925 juta.
Jadi, meski tahun 2025 diwarnai tantangan, geliat di kuartal terakhir dan rencana untuk tahun depan setidaknya memberi gambaran bahwa perusahaan ini sedang beradaptasi dengan dinamika pasar yang berubah cepat.
Artikel Terkait
Laba Bersih BSDE Anjlok 42% pada 2025, Meski Penjualan Tumbuh
Laba Bersih ADRO Anjlok 68% di Tengah Tekanan Harga Batu Bara dan Spin-off AADI
PT Liqun Investment Indonesia Resmi Akuisisi Saham Mayoritas KOKA
BNBR Terbitkan 86,7 Miliar Saham Baru, Dana Rights Issue Utamanya untuk Bayar Utang