Namun begitu, Gao Jing mengingatkan bahwa penyelesaian akhir transaksi masih menunggu pemenuhan beberapa prasyarat dalam CSPA dan tentu saja, regulasi yang berlaku.
KOKA sendiri punya catatan menarik. Perusahaan ini adalah pelopor; merupakan perusahaan konstruksi PMA asal China pertama yang berhasil melantai di BEI. Pencatatan saham perdana mereka terjadi pada Oktober 2023. Padahal, jejaknya di Indonesia sudah cukup panjang sejak didirikan tahun 2011. Lebih dari 100 proyek telah mereka tangani, banyak di antaranya untuk perusahaan China yang beroperasi di sini, sebut saja VIVO hingga SGMW Wuling.
Lalu, bagaimana komposisi sahamnya sebelum akuisisi ini? Hingga akhir Februari 2026, kepemilikannya terbagi. PT Kreatif Konstruksi Indonesia memegang 24,75%, disusul Gao Jing dengan 42,75%. Sun Ling dan Gao Jinfeng masing-masing pegang 5,6% dan 5,4%. Sisa sekitar 21,5% saham beredar di publik sebagai free float.
Di sisi lain, data terbaru dari KSEI memperlihatkan nama-nama lain dalam daftar pemegang saham. Ada Fathi dengan kepemilikan 2,05% dan Qiuling Shao yang menguasai 1,82%. Detail ini sedikit menambah warna pada struktur kepemilikan KOKA yang memang sudah cukup kompleks.
Dengan masuknya Liqun Investment, peta bisnis KOKA di sektor konstruksi terutama infrastruktur diprediksi akan berubah. Tinggal tunggu realisasi di lapangan.
Artikel Terkait
Laba Bersih Adaro Anjlok 37% di Tengah Pelemahan Harga Batu Bara Global
Laba Bersih ADRO Anjlok 68% di Tengah Tekanan Harga Batu Bara dan Spin-off AADI
BNBR Terbitkan 86,7 Miliar Saham Baru, Dana Rights Issue Utamanya untuk Bayar Utang
BNBR Bakal Terbitkan 86,7 Miliar Saham Baru untuk Lunasi Utang