Di sisi lain, ada faktor stok yang menarik. Survei Reuters memprediksi stok minyak sawit Malaysia turun untuk bulan kedua pada Februari, mencapai level terendah dalam empat bulan. Produksi yang menurun secara musiman rupanya lebih cepat ketimbang laju ekspor.
Berita lain datang dari India. Impor minyak sawit mereka melonjak 10,1 persen pada Februari, mencapai level tertinggi dalam setengah tahun. Menurut sejumlah pelaku pasar, diskon CPO yang makin lebar dibanding minyak nabati lain membuat kilang ramai-ramai membeli. Impor minyak bunga matahari pun ikut terpangkas.
Lalu, bagaimana dengan minyak mentah? Harganya naik 1 persen hari Rabu karena ketegangan di Timur Tengah perang AS dan Israel melawan Iran mengganggu pasokan. Tapi kenaikannya nggak segarang sesi sebelumnya.
Pelan-pelan, lajunya melambat. Pemicunya adalah pernyataan Presiden Donald Trump yang membuka opsi bagi Angkatan Laut AS untuk mengawal kapal yang melintasi Selat Hormuz. Pernyataan itu sedikit meredakan kepanikan.
Nah, kenaikan harga minyak mentah ini sebenarnya bisa jadi angin segar untuk CPO. Kok bisa? Soalnya, CPO jadi lebih murah dan menarik untuk dijadikan bahan baku biodiesel. Tapi hari ini, sentimen itu belum cukup kuat untuk menahan tekanan jual.
Artikel Terkait
OJK dan Bareskrim Geledah Mirae Asset Terkait Dugaan Manipulasi IPO dan Saham BEBS
IHSG Anjlok 4,57%, Saham Ifishdeco (IFSH) Melonjak 25%
Data KSEI Ungkap Pemerintah Norwegia Miliki Saham 24 Emiten di BEI
IHSG Anjlok 4,6% Dihajar Ketegangan Timur Tengah dan Revisi Outlook Fitch