AS-Israel Serang Iran, Perluasan Konflik Ancam Stabilitas Timur Tengah

- Rabu, 04 Maret 2026 | 18:40 WIB
AS-Israel Serang Iran, Perluasan Konflik Ancam Stabilitas Timur Tengah

Sudah hari ketiga konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berkecamuk. Situasinya makin panas. Serangan gabungan AS-Israel yang awalnya ditujukan ke Iran, kini berubah jadi perang regional setelah Teheran membalas dengan menggempur sejumlah negara Arab sekutu Washington.

Eskalasi terus berlanjut. Inggris, misalnya, baru saja mengizinkan AS memakai pangkalan militernya di Siprus. Tapi, kapan dan bagaimana semua ini berakhir? Pertanyaan itu masih terlalu dini untuk dijawab. Sejarah membuktikan, begitu perang dimulai, mengendalikannya bukan perkara mudah.

Meski begitu, kita bisa mencermati bagaimana masing-masing pihak yang bertikai membayangkan akhir dari pertempuran ini.

Kemenangan Ala Trump: Hancurkan Sampai Rata Dengan Tanah

Sejak awal, Presiden Donald Trump sudah punya gambaran sendiri soal arti kemenangan. Dan gambaran itu keras sekali.

"Kami akan menghancurkan rudal-rudal mereka. Kami akan meratakan industri rudal mereka hingga rata dengan tanah. Dihancurkan sepenuhnya," tegas Trump dalam pesan video yang direkam dari Mar-a-Lago, Florida.

Ia mengenakan kemeja berkerah terbuka dan topi bisbol putih yang ditarik rendah. Bukan dari belakang meja di Ruang Oval seperti lazimnya presiden AS dalam momen genting. "Kami akan menghancurkan angkatan laut mereka. Kami akan pastikan proksi teroris mereka tak lagi bisa mengganggu stabilitas, menyerang pasukan kami, atau menggunakan bom pinggir jalan yang telah menewaskan ribuan orang, termasuk warga Amerika."

Bagi Trump, kemenangan identik dengan kehancuran total kemampuan rudal Iran. Ia berulang kali klaim Iran sedang kembangkan rudal yang bisa capai AS klaim yang tak didukung penilaian intelijen AS sendiri. Ia juga bilang Iran nyaris punya senjata nuklir, meski sebelumnya pernah menyatakan AS telah "menghancurkan" fasilitas nuklir mereka.

Dalam pesan yang sekaligus jadi pengumuman perang itu, Trump memaparkan daftar tuduhan panjang, menyebut Iran sebagai ancaman mendesak sejak Revolusi 1979.

Upayanya disambut Israel yang punya ambisi serupa melumpuhkan rezim di Teheran. Trump bahkan tampak mengajak rakyat Iran untuk memberontak.

"Ketika kami selesai, ambil alih pemerintah kalian. Itu akan menjadi milik kalian. Ini mungkin satu-satunya kesempatan kalian dalam puluhan tahun," serunya. "Tidak ada presiden yang bersedia melakukan seperti yang saya lakukan malam ini. Sekarang kalian memiliki presiden yang memberikan apa yang kalian inginkan. Jadi mari kita lihat bagaimana respons kalian."

Ucapan itu terdengar demokratis, membuka ruang bagi rakyat Iran. Tapi, bisa jadi itu hanya taktik. Jika rezim ternyata bertahan, Trump punya alasan untuk menghindar. Soalnya, peluang menggulingkan sebuah rezim cuma lewat serangan udara itu sangat kecil. Belum ada presedennya.

Rencana Trump ini pertaruhan besar. Mungkinkah terjadi kudeta pro-Barat dari dalam? Bisa saja, tapi di hari ketiga perang ini, tanda-tandanya belum kelihatan. Justru yang lebih mungkin, para pemimpin Iran akan bertahan dan balas meluncurkan lebih banyak rudal, didorong keyakinan ideologis bahwa mereka bisa tahan lebih lama.

Hitungan Netanyahu: Hancurkan, dan Menang Pemilu

Mirip Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mendorong warga Iran untuk bertindak. Tapi, jika itu tak berhasil, prioritas utamanya jelas: menghancurkan militer Iran dan kemampuannya membangun milisi di wilayah yang bisa ancam Israel.

Selama puluhan tahun, Netanyahu memandang Iran sebagai musuh paling berbahaya. Ia yakin penguasa Iran ingin bangun senjata nuklir untuk menghancurkan negara Yahudi.

Pada suatu Minggu, ia berdiri di atas atap di Tel Aviv dan menjelaskan pandangannya. "Israel dan AS bersama-sama akan mampu melakukan apa yang telah ingin dicapai selama 40 tahun: menghancurkan rezim teror secara total," katanya dengan tegas. Ia berjanji akan mewujudkannya.

Namun, perang selalu punya dimensi politik dalam negeri. Netanyahu, seperti Trump, akan menghadapi pemilu akhir tahun ini. Bedanya, posisinya lebih rentan. Banyak warga Israel menyalahkannya atas kelalaian keamanan yang memberi Hamas kesempatan menyerang pada Oktober 2023 lalu. Kemenangan telak atas Iran bisa jadi pengampunan politik, bahkan membuatnya tak terkalahkan di pemilu nanti.

Rezim Iran: Runtuh atau Justru Makin Kuat?

Pembunuhan pemimpin tertinggi Iran jelas pukulan besar. Tapi bukan jaminan rezim akan runtuh. Sudah hampir 50 tahun sejak Revolusi Islam, sistem ini dirancang untuk bertahan dari perang dan pembunuhan.

Berbeda dengan Suriah atau Libia yang bergantung pada satu keluarga, rezim Iran adalah jaringan institusi politik dan agama yang kompleks. Untuk bertahan, mereka mengelilingi diri dengan perlindungan kuat: aparat keamanan, penindasan, dan paksaan yang kejam.

Intinya ada di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Lembaga ini punya mandat eksplisit melindungi rezim, dengan sekitar 190.000 personel aktif dan 600.000 cadangan. Mereka tak hanya punya doktrin agama, tapi juga kendali atas sebagian besar ekonomi. Loyalitas mereka kuat, baik secara ideologis maupun finansial.

IRGC didukung Basij, pasukan paramiliter sukarelawan sekitar 450.000 anggota, terkenal loyal dan bersedia melakukan kekerasan. Mereka jadi garis pertahanan pertama saat ada protes.

Trump mengancam akan menewaskan anggota IRGC dan Basij kecuali mereka menyerah. Ancaman itu kecil kemungkinan mengubah pikiran mereka. Republik Islam dan Islam Syiah dipenuhi pemikiran tentang mati syahid. Bahkan, beberapa analis menduga pemimpin mereka mungkin tetap bertahan di tempat meski tahu serangan datang, demi mencapai status syahid.

Dan rezim ini punya dukungan. Ribuan orang turun ke jalan di Teheran setelah pemimpin mereka wafat. Mereka berkumpul, menyalakan lilin dan senter ponsel, di tengah kepulan asak serangan udara.

Preseden yang Buruk, dan Taruhan Besar

AS dan Israel mungkin yakin kekuatan militer mereka bisa paksakan perubahan rezim tanpa bencana. Tapi presedennya suram. Penggulingan Saddam Hussein di Irak 2003 melahirkan perang bertahun-tahun dan gerakan jihadis ekstrem. Libia, negara kaya minyak, jadi negara gagal dan miskin setelah Gaddafi jatuh.

Iran jauh lebih besar dan kompleks. Luasnya hampir tiga kali Irak, dengan populasi multietnis lebih dari 90 juta jiwa. Jika rezim runtuh, skenario terburuknya adalah kekacauan dan perang saudara berdarah seperti di Suriah dan Irak.

Aksi militer AS-Israel saat ini memang menghancurkan kapasitas militer Iran dan mengubah dinamika Timur Tengah, bahkan jika rezim bertahan. Banyak warga Iran mungkin akan bersuka cita jika rezim jatuh. Tapi, menggantikan rezim yang digulingkan paksa dengan sesuatu yang damai dan teratur? Itu tantangan yang luar biasa berat.

Taruhan Trump bahwa perang ini akan buat Timur Tengah jadi lebih baik dan aman, jelas sangat-sangat menantang. Akhirnya, yang paling pasti hanyalah ketidakpastian itu sendiri.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar