Tamiang Terisolasi Total: Kantor Pemerintahan dan Polres Tenggelam dalam Lumpur

- Rabu, 03 Desember 2025 | 14:30 WIB
Tamiang Terisolasi Total: Kantor Pemerintahan dan Polres Tenggelam dalam Lumpur

Kabupaten Tamiang benar-benar terputus dari dunia luar. Banjir bandang disusul longsor telah mengubah wilayah itu menjadi pulau yang terisolasi, lumpuh total. Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, Kapolda Aceh, baru saja merasakan sendiri betapa sulitnya menjangkau daerah itu. Menurutnya, Tamiang saat ini adalah satu-satunya kabupaten di Aceh dimana pemerintahan lokal nyaris tak berfungsi sama sekali.

Bantuan dari mana pun, termasuk dari arah Medan, masih mentok. Jalan-jalan utama tertutup lumpur tebal dan genangan air yang dalam. Belum lagi longsoran yang menghalangi.

"Untuk Kabupaten Tamiang, untuk masuk ke wilayahnya masih banyak air. Dari Medan pun belum bisa tembus karena ada air sekitar 1 meter dan longsoran di jalan," ujar Marzuki.

Tapi dia dan timnya nekat. Mereka memaksa masuk. Bukan perkara mudah sepanjang jalan, mobil-mobil teronggok tak berdaya, terpelanting seperti mainan. Di sekitar pom bensin pun, pemandangan serupa.

"Kami bisa tembus kemarin, dengan dorong beberapa mobil, karena sepanjang jalan mobil bergelimpangan, di pom bensin mobil bergelimpangan," katanya, menggambarkan upaya berat itu.

Begitu tiba di pusat kota, yang mereka saksikan mirip adegan film bencana. Pemerintahan setempat benar-benar kolaps. Kantor Polres, instansi pemerintah, semuanya terendam lumpur. Tak ada kendaraan operasional, apalagi alat komunikasi yang masih berfungsi.

"Saat masuk Tamiang, karena kantor tenggelam, Polres tenggelam, kantor pemerintahan lain juga tenggelam, sehingga praktis tidak ada kendaraan maupun alat komunikasi yang bekerja," papar Marzuki.

Untungnya, mereka datang dengan persiapan. Membawa genset dan peralatan pendukung lain. Setidaknya, dengan itu mereka bisa mengumpulkan informasi dan mengidentifikasi area mana yang paling parah terdampak.

Informasi itulah yang jadi kunci. Akhirnya, bantuan logistik bisa disalurkan, meski harus lewat jalur darurat: udara dan laut.

"Kita bawa genset, memberi informasi daerah terpapar terparah, sehingga makanan bisa kita drop dua versi, dari laut dan udara. Makanan kita drop lewat udara, dan lewat laut kita drop lewat Salahaji dan TPI-nya di bagian utaranya," tutupnya.

Sebuah upaya penyelamatan yang dimulai dengan mendorong mobil-mobil yang bergelimpangan, berujung pada pengiriman bantuan dari langit dan ombak. Situasi darurat yang memaksa semua pihak berpikir di luar jalur normal.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler