"Saat masuk Tamiang, karena kantor tenggelam, Polres tenggelam, kantor pemerintahan lain juga tenggelam, sehingga praktis tidak ada kendaraan maupun alat komunikasi yang bekerja," papar Marzuki.
Untungnya, mereka datang dengan persiapan. Membawa genset dan peralatan pendukung lain. Setidaknya, dengan itu mereka bisa mengumpulkan informasi dan mengidentifikasi area mana yang paling parah terdampak.
Informasi itulah yang jadi kunci. Akhirnya, bantuan logistik bisa disalurkan, meski harus lewat jalur darurat: udara dan laut.
"Kita bawa genset, memberi informasi daerah terpapar terparah, sehingga makanan bisa kita drop dua versi, dari laut dan udara. Makanan kita drop lewat udara, dan lewat laut kita drop lewat Salahaji dan TPI-nya di bagian utaranya," tutupnya.
Sebuah upaya penyelamatan yang dimulai dengan mendorong mobil-mobil yang bergelimpangan, berujung pada pengiriman bantuan dari langit dan ombak. Situasi darurat yang memaksa semua pihak berpikir di luar jalur normal.
Artikel Terkait
Tiga Penerbangan Modifikasi Cuaca Diterbangkan untuk Tahan Banjir Jakarta
Gerakan Rakyat Resmi Berkibar Jadi Partai, Sahrin Hamid Pimpin Transformasi
Harapan dan Doa di Pondok Bambu untuk Yoga, Korban Hilang Pesawat Maros
Dari Tunanetra Jadi Terapis Andalan, Andry Buktikan Disabilitas Bukan Halangan Berkarya