Di sisi lain, tekanan di Asia ternyata sangat berat. Bursa Korea Selatan, misalnya, mengalami kejatuhan yang dramatis. Indeks KOSPI anjlok 8,10 persen hingga pukul 09.31 WIB. Bayangkan, dalam dua hari saja, akumulasi penurunannya menembus angka 13 persen. Aksi jual ini dipicu oleh keluarnya dana cepat dan investor asing dari pasar yang sebelumnya melesat tinggi. Won Korsel ikut terimbas, terdepresiasi ke level terendah dalam 17 tahun terhadap dolar AS.
Jepang juga tak kalah parah. Indeks Nikkei terperosok 3,79 persen, melanjutkan tren merah untuk hari ketiga. Baik Jepang maupun Korea Selatan, sebagai importir energi utama, sangat rentan dengan gejolak harga minyak yang bisa dipicu oleh konflik. Kekhawatiran akan guncangan energi, inflasi, dan penundaan pemotongan suku bunga bank sentral membuat investor memangkas posisi mereka, termasuk di aset-aset yang sebelumnya panas seperti emas dan saham produsen chip.
Peta merah ini menyebar luas. Shanghai Composite China merosot 0,85 persen. Hang Seng Hong Kong tergerus 1,84 persen. Bursa Australia, ASX 200, melemah 1,90 persen. Sementara STI Singapura terdepresiasi 2,04 persen. Suasana hati pasar benar-benar muram.
Jadi, Rabu ini adalah cerminan dari ketakutan kolektif. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah berhasil menghentikan momentum pasar dan mengubahnya menjadi aksi jual massal. Para investor, tampaknya, memilih untuk menyelamatkan diri dulu, menunggu badai ini benar-benar reda.
Artikel Terkait
PT SMI Siapkan Instrumen Investasi untuk Libatkan Masyarakat Biayai Infrastruktur
MNC Sekuritas Gelar Investor Gathering 2026, Bahas Peluang di Pasar Global
Dolar AS Meroket ke Level Tertinggi Tiga Bulan, Investor Berlindung dari Ketegangan Timur Tengah
IHSG Anjlok 1,66%, Seluruh Sektor Terkapar di Zona Merah