Dolar AS Meroket ke Level Tertinggi Tiga Bulan, Investor Berlindung dari Ketegangan Timur Tengah

- Rabu, 04 Maret 2026 | 10:35 WIB
Dolar AS Meroket ke Level Tertinggi Tiga Bulan, Investor Berlindung dari Ketegangan Timur Tengah

Dolar AS melonjak lagi. Pagi ini di pasar Asia, mata uang Amerika itu meroket ke posisi tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Kenaikan ini tak lepas dari aksi investor yang ramai-ramai menjauhi euro, khawatir dengan situasi di Timur Tengah yang makin panas. Konflik yang meluas itu bikin semua orang waswas, terutama soal harga energi yang bisa-bisa terus merangkak naik.

Indeks dolar, yang jadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, tercatat naik 0,2 persen ke level 99,284. Posisi ini adalah yang terkuat sejak akhir November lalu. Sementara itu, pergerakannya terhadap yen Jepang cenderung datar, bertahan di kisaran 157,68 yen.

Mata uang Eropa lainnya juga tertekan. Poundsterling Inggris melemah 0,3 persen, menyentuh USD1,3315. Euro sendiri anjlok 0,3 persen ke USD1,1581 ini adalah pelemahan hari ketiga berturut-turut dan sekaligus membawa si koin biru ke level terendah sejak November tahun lalu. Padahal, data inflasi zona euro yang dirilis Selasa lalu sebenarnya lebih tinggi dari perkiraan. Tapi, tampaknya semua itu tenggelam oleh berita dimulainya konflik Iran.

Menurut George Saravelos, Kepala Riset Valas Global di Deutsche Bank, dampak perang terhadap pergerakan EUR/USD sebenarnya cukup sederhana dan langsung.

"Intinya cuma satu: energi," ujarnya.

Di sisi lain, dolar Australia justru terperosok 0,6 persen ke USD0,6995. Yang menarik, pelemahan ini terjadi meski data pertumbuhan ekonomi mereka untuk kuartal IV terakhir cukup solid, bahkan melampaui ekspektasi pasar. Sepertinya sentimen global yang suram mengalahkan kinerja domestik yang bagus.

Lalu bagaimana dengan yuan China? Di pasar offshore, dolar relatif stabil di 6,9225 yuan. Data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Februari yang dirilis memberikan sinyal beragam. Versi resmi pemerintah menunjukkan perlambatan aktivitas, tapi survei dari sektor swasta justru lebih optimis dan mengalahkan prediksi.

Jadi, secara garis besar, ketegangan geopolitik lagi-lagi jadi panglima. Investor berlari mencari aman ke aset yang dianggap safe haven, dan dolar AS masih menjadi pilihan utama setidaknya untuk hari ini.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar