Dolar AS melonjak lagi. Pagi ini di pasar Asia, mata uang Amerika itu meroket ke posisi tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Kenaikan ini tak lepas dari aksi investor yang ramai-ramai menjauhi euro, khawatir dengan situasi di Timur Tengah yang makin panas. Konflik yang meluas itu bikin semua orang waswas, terutama soal harga energi yang bisa-bisa terus merangkak naik.
Indeks dolar, yang jadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, tercatat naik 0,2 persen ke level 99,284. Posisi ini adalah yang terkuat sejak akhir November lalu. Sementara itu, pergerakannya terhadap yen Jepang cenderung datar, bertahan di kisaran 157,68 yen.
Mata uang Eropa lainnya juga tertekan. Poundsterling Inggris melemah 0,3 persen, menyentuh USD1,3315. Euro sendiri anjlok 0,3 persen ke USD1,1581 ini adalah pelemahan hari ketiga berturut-turut dan sekaligus membawa si koin biru ke level terendah sejak November tahun lalu. Padahal, data inflasi zona euro yang dirilis Selasa lalu sebenarnya lebih tinggi dari perkiraan. Tapi, tampaknya semua itu tenggelam oleh berita dimulainya konflik Iran.
Menurut George Saravelos, Kepala Riset Valas Global di Deutsche Bank, dampak perang terhadap pergerakan EUR/USD sebenarnya cukup sederhana dan langsung.
Artikel Terkait
MNC Sekuritas Gelar Investor Gathering 2026, Bahas Peluang di Pasar Global
IHSG Anjlok Lebih dari 2%, Terimbas Gelombang Jual Massal di Asia
IHSG Anjlok 1,66%, Seluruh Sektor Terkapar di Zona Merah
Konflik Timur Tengah Picu Aksi Jual dan Anjloknya Bursa Asia