"Ambil contoh jam terbang. Karena jumlah pesawat yang antre servis, seorang pilot bisa dialokasikan ke Citilink, Garuda, atau Pelita. Coba bandingkan dengan maskapai swasta. Pramugari Lion atau Super Air Jet bisa berapa kali terbang sehari? Lalu bandingkan dengan yang di Garuda atau Citilink," lanjutnya.
Targetnya sih, semua ini bisa rampung di tahun 2026. Tepatnya diharapkan selesai pada semester pertama. Kenapa buru-buru? Ini penting banget untuk mendongkrak kinerja keuangan Garuda yang masih perlu banyak perbaikan.
"Ini krusial. Dengan cara ini, kita bisa dapat tambahan pendapatan tanpa harus menambah pesawat baru," katanya menegaskan.
Di sisi lain, ada tujuan strategis lain yang ingin dicapai. Selama ini, ketiga maskapai negara itu kerap saling sikut di rute-rute yang sama yang sudah pasti menguntungkan. Padahal, kalau digabung kekuatannya, mereka bisa membuka rute-rute baru dan meningkatkan konektivitas secara keseluruhan.
Rohan memberi gambaran sederhana. "Pesawatnya kan jadi lebih banyak kalau digabung. Di rute yang sama, misalnya Surabaya, masing-masing maskapai mungkin cuma terisi 60%. Tapi kalau digabung jadi satu penerbangan, bisa penuh dan optimal. Logikanya, untuk satu tujuan yang sama, ngapain dioperasikan tiga flight berbeda?" pungkasnya.
Artikel Terkait
VKTR Dukung Pengolahan Sampah Jadi Energi dengan Truk Listrik
Sari Roti Rencanakan Diversifikasi ke Bisnis Pakan Ternak dari Limbah Produksi
IHSG Menguat Tipis ke 8.235,49 Didorong Aksi Beli di Saham-Saham Emiten Tertentu
Rupiah Melemah ke Rp16.787, Dihantui Ketegangan Geopolitik dan Tarif AS