Dengan asumsi tersebut, proyeksi laba untuk 2026 terlihat optimis. "Secara keseluruhan, kami memproyeksikan pertumbuhan laba BMRI sekitar enam persen pada 2026 menjadi Rp58,7 triliun atau 6,3 persen di atas konsensus yang sebesar Rp55,2 triliun," jelas Jovent.
Kinerja moncer serupa juga tercatat oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), sehingga kedua bank ini kerap menjadi saham pilihan utama analis di sektor perbankan.
Rekomendasi Beli dari Analis
Atas dasar fundamental yang kuat dan prospek pertumbuhan yang terjaga, sejumlah sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham BMRI. Indo Premier Sekuritas merekomendasikan buy dengan target harga Rp6.400, menilai valuasi saham saat ini masih menarik. MNC Sekuritas juga memberikan rekomendasi serupa dengan target harga Rp6.050.
Penguatan profitabilitas bank tidak hanya bersumber dari bunga, tetapi juga dari diversifikasi pendapatan. Sepanjang 2025, pendapatan non-bunga BMRI naik 14,5% menjadi Rp48,5 triliun, didorong oleh aktivitas transaksi nasabah dan layanan ekosistem digital.
Respons Terhadap Dinamika Eksternal
Di tengah apresiasi pasar, industri perbankan juga menghadapi tantangan eksternal, termasuk penilaian dari lembaga pemeringkat. Menanggapi hal ini, jajaran direksi Bank Mandiri menegaskan komitmen untuk menjaga disiplin dalam pengelolaan risiko.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menyatakan pihaknya berkomitmen untuk menjaga posisi pengelolaan kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas secara disiplin dan terukur, sebagai fondasi utama pertumbuhan jangka panjang.
Corporate Secretary BMRI, Adhika Vista, menyebut penilaian eksternal menjadi pengingat untuk terus waspada. "Hal tersebut turut menjadi pengingat bagi Bank Mandiri untuk mengantisipasi dinamika eksternal guna menjaga fundamental secara berkelanjutan," ungkapnya.
Ke depan, langkah antisipatif akan difokuskan pada penguatan likuiditas, permodalan, dan pemeliharaan kualitas pembiayaan. "BMRI juga akan tetap menjaga disiplin dalam penerapan manajemen risiko dan melanjutkan strategi pertumbuhan berkelanjutan," tutup Adhika.
Artikel Terkait
Analis Prediksi Harga Minyak Bisa Tembus US$116 per Barel Pekan Depan
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan