Faktor Geopolitik dan Stabilitas Pasar
Ketegangan yang terus membayangi kawasan Timur Tengah, termasuk isu-isu seputar Iran, kerap menimbulkan kekhawatiran akan guncangan pasokan energi global. Meski demikian, respons pasar terhadap berita-berita geopolitik dalam setahun terakhir terbilang terbatas.
"Namun, ia menilai pelaku pasar besar cenderung tetap tenang. Dalam setahun terakhir, berbagai sentimen geopolitik dari kawasan tersebut tidak mampu mendorong reli beli besar yang berkelanjutan," jelas Petrucci.
Dengan kata lain, pasar tampaknya telah belajar untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap setiap gejolak di kawasan tersebut, kecuali jika terjadi eskalasi yang benar-benar signifikan dan mengancam aliran minyak.
Kondisi Fundamental dan Arah Pergerakan
Secara fundamental, data inflasi AS yang lebih lunak tidak terlepas dari kontribusi harga energi yang lebih rendah. Hal ini mengisyaratkan bahwa pasokan minyak, termasuk WTI, masih tercukupi dan belum menunjukkan tanda-tanda pengetatan yang berarti dalam jangka menengah. Meski level di bawah USD63 per barel mungkin terlihat menarik bagi sebagian trader, sejarah pasar menunjukkan harga komoditas ini pernah berada di level yang lebih rendah dalam periode yang tidak terlalu lama.
Menyimpulkan pandangannya, Petrucci menuturkan, "Dengan suplai yang stabil dan pelaku pasar besar yang relatif tenang, pergerakan WTI sepekan ke depan dinilai masih dibayangi tekanan, meski tetap terbuka ruang rebound teknikal di area atas kisaran tersebut."
Dengan demikian, meski ada peluang untuk koreksi teknikal ke sisi atas, sentimen pasar secara keseluruhan masih dibayangi oleh tekanan dari sisi pasokan yang melimpah dan ketenangan pelaku utama dalam menanggapi risiko geopolitik.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 1,25% Diterpa Sentimen Serangan AS ke Iran
PSSI Rencanakan Buyback Saham Senilai Rp 50 Miliar Mulai 2026
IHSG Anjlok 1,07%, Sektor Industri Paling Terpukul di Awal Perdagangan
Harga Emas Batangan di Pegadaian Naik Signifikan pada Kamis