"Kuartal ini menandai transisi penting bagi EMAS," tutur Boyke.
Dia menambahkan, "Peningkatan kapasitas pengolahan, pertumbuhan cadangan yang kuat, serta penyelesaian tonggak pengembangan utama mencerminkan kualitas dan skala proyek ini."
Tak cuma heap leach, EMAS juga mempercepat pengembangan fasilitas Carbon-in-Leach (CIL). Desainnya direkonfigurasi supaya fasilitas ini bisa beroperasi penuh dengan kapasitas 12 Mtpa di tahun 2028 jauh lebih cepat dari rencana awal yang menargetkan kapasitas awal 7,5 Mtpa di 2029. Pekerjaan tanah untuk CIL sendiri sudah dimulai sejak Januari lalu.
Soal pendanaan, EMAS terlihat cukup solid. Anak usahanya baru saja dapat fasilitas kredit bergulir senilai USD350 juta dari sindikasi bank, dengan tenor 60 bulan. Ini tentu memperkuat struktur pendanaan di tengah fase awal produksi yang krusial.
Di sisi lain, dari segi sumber daya, ada kabar bagus. Cadangan bijih emas di Pani melonjak jadi 190,3 juta ton, dengan kandungan emas mencapai 4,8 juta ounces. Kenaikan ini jelas mempertegas skala ekonomi dan prospek jangka panjang tambang ini sebagai aset utama EMAS.
Hingga saat ini, investasi yang sudah dikucurkan untuk konstruksi dan praproduksi operasi open-pit heap leach mencapai sekitar USD238 juta. Optimisme untuk mencapai target 2026 tetap tinggi, meski semuanya masih bergantung pada persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang diperlukan.
Artikel Terkait
Laba Bersih Chandra Asri Melonjak 2.662% Jadi Rp 23,8 Triliun pada 2025
IHSG Berbalik Anjlok 1,21% di Sesi I, Sektor Energi dan Industri Tertekan
Laba Bersih DGWG Tembus Rp218,85 Miliar di 2025, Didongkrak Pendapatan Rekor
ESDM Siap Naikkan Harga Patokan Nikel Usai Perintah Presiden Prabowo